Miselfen

Agama Islam adalah agama dengan dasar dalil. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Dalil adalah 1) keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu kebenaran; 2) patokan kebenaran dalam matematika, sebagai contoh segitiga sama sisi memiliki ketiga sudut yang sama besar; 3) pendapat yang dikemukakan dan dipertahankan sebagai suatu kebenaran; 4) tanda; penunjukan; alhayat tanda hidup (surat yang dikirimkan untuk memberi kabar). Berdalil adalah 1) beralasan; berketerangan. Dengan demikian Islam menjadikan ayat Alquran sebagai suatu kebenaran. Agama Islam bukan berdasarkan dongeng, bukan cerita, bukan kata orang, bukan banyaknya orang. Agama Islam tidak mengikuti ajaran nenek moyang, karena agama Islam adalah agama dengan dasar dalil. Kecintaan saya pada Islam karena berlandaskan pada ini. Pada dasarnya saya mencintai belajar. Islam patut dipelajari dan saya menemukan ketenangan di dalamnya. Saya beralih dari orang yang tidak berlandas saat berucap, menjadi orang yang menghormati setiap ucapan/kutipan. Setiap guru berucap selalu saya sempatkan untuk mengkutip kalimat yang berkesan, sebagai contoh : Yang namanya analisa kasus adalah memecah mecah kasus tersebut menjadi bagian terkecil lalu kita teliti satu persatu apakah sesuai fact dan teori? kalo sesuai kenapa, kalo tidak sesuai kenapa (dr Judi Januadi Endjun, SpOG). Saya catat di buku coretan, lalu saya masukan ke file komputer dan kalimat tersebut masih bertahan hingga 13 tahun kemudian. Saya dilahirkan dalam keluarga dengan agama kultural dan saya dibesarkan di sekolah (sampai kuliah) beragama yang lain dibandingkan agama saya di rumah. Saat itu saya masih ke tempat beribadah beberapa agama tersebut. Sampai suatu saat ketika kuliah, seseorang yang penting bagi saya mengucapkan kalimat yang membuat saya ragu dengan kepercayaan saya sebelumnya. Breaking apart my spiritual life. Orang tersebut berkata bahwa pada dasarnya kitab yang saya baca saat itu adalah hasil seleksi manusia. Beberapa surat dirobek bila tidak sesuai dengan kemauan perkumpulan. Aneh, sangat aneh. Berbulan bulan saya merenungi kalimat tersebut, apa maksud dibalik ucapan yang kontradiktif tersebut. Sebagai seorang beragama, bukankah harusnya membuat kita mantap terhadap agama tertentu. Agama saya bimbang karena kitabnya tidak sesuci dulu. Dalam hati saya berkata, bagaimana kamu bisa mensetujui satu hal tapi menafikan hal lain padahal ini kitab suci. Saya rasa ini bukan dalil. Saya rasa ini bukan kebenaran. Akhirnya saya jatuh dalam kondisi agnostik. Saya percaya Tuhan ada (setiap belajar anatomi, saya pasti mengakui (bukan mensyukuri) kebesaran Tuhan sebagai sang Maha Pencipta) tapi Tuhan kok kayaknya ninggalin manusia begitu saja dan survival for the fittest terjadi di dunia saat ini. Tahun demi tahun saya agnostik, sampai suatu saat saya masuk dalam periode terendah kehidupan. Agnostik membuat saya semakin terpuruk. Dunia terasa abu abu dan tidak berwarna, saya tidak bisa mensyukuri apapun, karena ya agnostik mau bersyukur pada siapa? Kan kita gak percaya lagi kalau Tuhan mengelola dunia. Padahal syukur adalah kunci kebahagiaan hidup paling utama. Yang menarik adalah selama saya agnostik, saya beberapa kali mendapatkan muksizat yang emmmm, saya berpikir sedikit kalau jangan jangan Tuhan tidak benar benar meninggalkan saya (Saya yang meninggalkan Tuhan). Jangan jangan malaikat itu super canggih, jaringan neurolink nya sangat mutahir (Ya memang benar, setelah saya mengenal Islam). Muksizat inilah yang membuatku melunak. Sampai akhirnya Tuhan memperkenalkan saya dengan agama Islam. Islam mengatakan bahwa Alquran diturunkan langsung olehNya. What the? Saat itu saya mendebat habis habisan kepada sang (calon) istri (sampai nangis). Saya mendebat ini, mendebat itu, mendebat onoh, kenapa bisa yakin kalau Alquran tidak ada turut campur tangan manusia. Allah melunakan hati saya yang seperti batu, jawaban demi jawaban saya dapatkan dengan hidayah. Hidayah datang dari (calon) istri, dari keluarga (calon) istri, dari orang orang tidak dikenal, dari tukang sapu di kantor polisi, dari ibu ibu di kereta api..hhmmmm..hidup memang aneh. Saya semakin melunak, dan akhirnya Islam merengkuh hidup saya ketika saya masuk pitfall yang makin dalam di rumah yang sudah saya abandon. Saya ingin beribadah. Saya ingin bisa berdoa secara ritualis yang benar. Ya Islam bisa berdoa kepada Allah secara ritualis sehari 5x dalam sholat (subuh, dzuhur, azhar, magrib dan Isya). Calon istri saya mengajarkan saya sholat dan akhirnya saya menyatakan diri masuk Islam sebelum menikahi istri saya. Ya saya masuk Islam bukan karena istri saya, tapi karena hidayah yang tentu sangat panjang. Terimakasih kepada istriku tercinta yang mengenalkan saya pada cahaya kebenaran, cahaya dari agama berdalil (Bandung, 23/10/2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s