Aksi dokter berhati mulia

Lantaran poliklinik yang dipimpin sifatnya prodeo alias gratis, maka pasien yang datang dari kalangan dhuafa, entah dhuafa dalam materi maupun intelektual

Aksi Dokter Berhati Mulia

NOVA
Senin, 21 Juli 2008 | 13:02 WIB
Pengobatan gratis itu bernama Rumah Sehat Masjid Agung Sunda Kelapa (RSMASK). Diresmikan oleh Presiden Soesilo Bambang Yodhoyono pada 14 September 2007. Sejak diresmikan, rumah sehat ini dikomandani oleh dr. H.M. Fachrizal Achmad, M.Si.

Ada banyak alasan, kenapa ayah enam anak ini menerima tugas yang secara materi tidak menguntungkan. Padahal ia bisa dengan mudah bekerja di Rumah Sakit ternama yang tentu sangat menjanjikan secara materi. Namun Fachrizal ternyata lebih menikmati bekerja di RSMASK.

“Saya merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika bekerja di sini. Hidup saya lebih tenang, enggak ada beban. Makanya berat badan saya sekarang bertambah,” kata lulusan Fakultas Kedokteran UI saat berbincang dengan NOVA.

Lantaran poliklinik yang dipimpin sifatnya prodeo alias gratis, maka pasien yang datang dari kalangan dhuafa, entah dhuafa dalam materi maupun intelektual. Makanya, lanjut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka itu menjelaskan kadang pihaknya sulit memberi masukan pada pasiennya. “Belum lagi ada pasien yang kurang beretika. Ada lo, pasien yang memarahi dan mengatur dokter,” kata Fachrizal yang kerap dikirimi kue mantan pasiennya yang sembuh. “Itu menjadi kebahagian tersendiri bagi kami.”

Meski gratis, pelayanan di sini sangat profesional. Peralatan kedokteran pun sangat memadai. Ada laboratorium, UGD, Poli Umum, Poli Gigi, Apotik, dan perlengkapan USG. RSMASK sudah menambah mesin pencuci darah dan ruang operasi. Selain dokter umum, juga ada dokter spesialis. Jadi tak sekadar menangani penyakit ringat, seperti flu dan batuk.

Sebenarnya RSMASK ingin diubah menjadi RS. Namun terganjal izin. “Alasannya, lokasi kita yang berada di tengah wilayah Menteng, Jakarta Pusat yang dikenal sebagai wilayah elite dan dekat masjid. Ada kekhawatiran air limbah t mencemari air tanah sekitarnya.”

Padahal pihaknya sudah dapat jaminan bahwa air limbah akan diolah dan airnya bisa diminum tanpa perlu dimasak terlebih dalu. “Meski demikian sampai sekarang izinnya belum keluar,” jelas Fachrizal sambil menambahkan awalnya poliklinik ini berada di Ciputat, Tangerang. “Namun menjadi kendala karena dokter di sini banyak yang praktek di RSCM. Karena lokasinya jauh, tak bisa tertangani dengan baik. Akhirnya dapat lokasi di sini.”

Selama menunggu izin pendirian Rumah Sakit, “Pasien yang butuh penanganan operasi kadang harus menunggu lama. Soalnya kami harus mencari donatur untuk membiayai operasi tersebut di Rumah Sakit. Terus terang kami enggak mampu bila harus membiayai pasien yang harus dirujuk ke Rumah Sakit.”

Agar pelayanan RSMASK dapat langsung dirasakan kaum dhuafa, “Kami mempunyai dua satelit, yakni berupa pelayanan jemput bola, yang bernama Pondok Sehat. Satu di Pulo Gebang, Jakarta Timur dan satu lagi di Pamulang, Tangerang. Ada kemungkinan untuk ditambah, tinggal menunggu donaturnya saja.”

Hampir setiap bulan, RSMASK mengadakan program-program khusus seperti operasi katarak, sunatan massal, hernia dan lain-lain. “Untuk Juli dan Agustus depan kami akan mengadakan operasi hernia, katarak dan bibir sumbing. Juga ada program sunatan massal keliling di enam kota.”

Tidak Dibedakan

Fachrizal tak sendiri, ada beberapa dokter lain yang juga mengabdikan dirinya pada masyarakat bawah. Diantaranya adalah dr. Herman Hasan dan dr. Tjumiati yang bahu-membahu mendirikan Poliklinik Matius 25 (Polimat) di kawasan Pondok Aren, Tangerang.

“Tak ada salahnya kan, membantu orang yang tengah kesulitan? Kegiatan ini sudah saya lakukan sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Atmajaya pada tahun 86. Saya senang melakukan kegiatan seperti ini,” ujar Herman yang menyisihkan waktunya satu hari setiap bulan untuk aktif di Polimat.

Kegiatan sosial yang dilakukan Herman tak terbatas hanya di Polimat atau kegiatan-kegiatan sosial lainnya. “Di tempat praktek saya banyak juga pasien yang tidak mampu terpaksa berhutang. Enggak masalah bagi saya,” ucapnya.

Dalam sehari, Polimat bisa menangani pasien sampai 70 orang. “Untungnya kami dibantu beberapa dokter. Selain itu, juga dengan beberapa organisasi lain yang juga membuka pengobatan murah atau gratis. Sehingga pasien tak terlalu banyak. Dengan Puskesmas pun hubungan kami baik,”kata Tjumiati.

Seperti di Rumah Sehat, pasien yang datang ke Polimat dengan beragam penyakit. Jika harus operasi di RS, pihaknya harus mencari donatur.

Tjumiati bersyukur keluarga sangat mendukung langkah yang diambilnya. “Kadang-kadang saya ajak dua anak saya ikut membantu. Dengan begitu, saya berharap anak-anak dapat mengikuti langkah saya. Seperti saya dulu yang oleh orangtua saya sudah diajarkan untuk membantu orang-orang yang sedang kesusahan,” kata wanita kelahiran Blora, Jawa Tengah itu.

Walau tidak dibayar, “Saya enggak membeda-bedakan pasien, enggak boleh begitu. Semua pasien sama saja penanganannya. Apa agama atau status mereka, semua itu enggak jadi masalah bagi saya,” ucapnya sambil tersenyum.

Soal rezeki, “Bila enggak datang dari mereka, siapa tahu datang dari orang lain. Lagi pula dengan melakukan kegiatan sosial ini saya berharap dapat pasport ke surga. Jangan hanya memikirkan soal dunia, tapi juga memikirkan soal akhirat nanti,” tambahnya.

Program kesehatan lain seperti Posyandu atau operasi gratis pun kerap dilakukan Tjumiati dengan Polimat. “Di Posyandu kami memberi susu dan vitamin pada anak-anak yang kurang gizi.. Untuk operasi gratis juga sudah beberapa kali kami lakukan. Paling dekat, September depan kami akan membuat operasi katarak gratis.”

Karena itu, “Pasien kami semakin lama semakin bertambah. Enggak lagi datang dari sekitar Polimat, tapi ada juga yang dari Ciputat, Tangerang. Padahal kami enggak pernah mengiklankan. Mereka tahu dari mulut ke mulut saja,” bebernya.

Kedepan, Tjumiati berharap dapat terus meningkatkan pelayanannya. “Salah satunya kami berharap bisa membuat ruang perawatan inap. Untuk sementara ini kami kesulitan mendapatkan tanahnya. Kami masih menunggu donaturnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s