Info malaria

Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat cepat maupun lama prosesnya, malaria disebabkan oleh parasit malaria

Definisi

Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat cepat maupun lama prosesnya, malaria disebabkan oleh parasit malaria / Protozoa genus Plasmodium bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manusia ditularkan oleh nyamuk malaria ( anopeles ) betina ( WHO 1981 ) ditandai dengan demam, muka nampak pucat dan pembesaran organ tubuh manusia.5

Epidemiologi

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995, diperkirakan 15 juta penduduk Indonesia menderita malaria, 30 ribu di antaranya meninggal dunia. Morbiditas (angka kesakitan) malaria sejak tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Di Jawa dan Bali terjadi peningkatan: dari 18 kasus per 100 ribu penduduk (1998) menjadi 48 kasus per 100 ribu penduduk (2000). Peningkatan terjadi terutama di Jawa Tengah (Purworejo dan Banyumas) dan Yogyakarta (Kulon Progo). Di luar Jawa dan Bali, peningkatan terjadi dari 1.750 kasus per 100 ribu penduduk (1998) menjadi 2.800 kasus per 100ribu penduduk (2000): tertinggi di NTT, yaitu 16.290 kasus per 100 ribu penduduk.2,4

Etiologi. 2,3,4,6

Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus plasmodium. Penyakit ini memiliki empat jenis.Salah satunya adalah malaria tropika.
Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau dan kematian.Parasit ini berada dalam tubuh nyamuk betina yang berperan sebagai vector.
Penyakit akibat gigitan nyamuk cukup beragam. Nyamuk pembawa virus (vektor) juga beragam. Cara hidup dan cara menggigit nyamuk berbeda-beda pula. Ada nyamuk betina yang suka menggigit dalam posisi menungging alias posisi badan, mulut dan jarum yang dibenamkan ke kulit manusia dalam keadaan segaris. Nyamuk ini berasal dari golongan Anopheles yang menyebabkan penyakit malaria. Melalui nyamuk Anopheles betina. Kurang lebih 10 hari setelah gigitan, virus penyebab malaria masuk ke dalam aliran darah, lalu berkembang biak dan mengganti semua hemoglobin di dalam sel darah merah.

Patogenesis 1,2,4,6

Siklus Hidup Plasmodium Malaria
Dalam siklus hidupnya Plasmodium mempunyai dua hospes yaitu pada manusia dan nyamuk . Siklus aseksual yang berlangsung pada manusia disebut skizogoni dan siklus seksual yang memebentuk sporozoit didalam nyamuk disebut sporogoni.

Siklus Aseksual
Sporozoit infeksi dari kelenjar ludah nyamuk anopheles betina dimasukan kedalam darah manusia melalui tusukan nyamuk tersebut. Dalam waktu tiga puluh menit jasad tersebut memesuki sel-sel parenkim hati dan dimulai stadium eksoeritrositik dari pada daur hidupnya. Didalam sel hati parasit tumbuh menjadi skizon dan berkembang menjadi merozoit. Sel hati yang mengandung parasit pecah dan merozoit keluar dengan bebas, sebagian difagosit. Oleh karena prosesnya terjadi sebelum memasuki eritrosit maka disebut stadium preeritrositik atau eksoeritrositik. Siklus eritrositik dimulai saat merozoit memasuki sel-sel darah merah. Parasit tampak sebagai kromatin kecil, dikelilingi oleh sitoplasma yang besar, bentuk tidak teratur dan mulai membentuk tropozoit, tropozit berkembang menjadi skizon muda, Kemudian berkembang menjadi skizon matang dan membelah banyak menjadi merozoit, pigmen dan sisa sel keluar dan memasuki plasma darah. Parasit memasuki sel darah merah lainnya untuk mengulangi siklus skizogoni. Beberapa merozoit memasuki eritrosit dan membentuk skizon dan lainnya membentuk gametosit yaitu bentuk seksual.

Siklus Seksual
Terjadi dalam tubuh nyamuk. Gametosit yang bersama darah tidak tidak dicerna oleh sel-sel lain. Pada makrogamet (jantan ) kromatin membagi menjadi 6-8 inti yang bergerak kepinggir parasit. Dipinggir ini beberapa filament dibentuk seperti cambuk dan bergerak aktif disebut mikrogamet. Pembuahan terjadi karena masuknya mikrogamet kedalam makrogamet untuk menjadi zigot. Zigot berubah bentuk seperti cacing pendek disebut ookinet yang dapat menembus lapisan epitel dan membrane basal dinding lambung. Ditempat ini ookinet membesar dan disebut ookista. Didalam ookista dibentuk ribuan sporozoit dan beberapa sporozoit menembus kelenjar nyamuk dan bila nyamuk menggigit atau menusuk manusia maka sporozoit masuk kedalam darah dan mulailah siklus preeitrositik.

Gambaran Klinis 1,2,7

Gejala serangan malaria pada penderita terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
1. Gejala klasik, biasanya ditemukan pada penderita yang berasal dari daerah non endemis malaria atau yang belum mempunyai kekebalan (immunitas); atau yang pertama kali menderita malaria. Gejala ini merupakan suatu parokisme, yang terdiri dari tiga stadium berurutan:

– menggigil (selama 15-60 menit), terjadi setelah pecahnya sizon dalam eritrosit dan keluar zat-zat antigenik yang menimbulkan mengigil-dingin.
demam (selama 2-6 jam), timbul setelah penderita mengigil, demam dengan suhu badan sekitar 37,5-40 derajat celcius, pada penderita hiper parasitemia (lebih dari 5 persen) suhu meningkat sampai lebih dari 40 derajat celcius.
– berkeringat (selama 2-4 jam), timbul setelah demam, terjadi akibat gangguan metabolisme tubuh sehingga produksi keringat bertambah. Kadang-kadang dalam keadaan berat, keringat sampai membasahi tubuh seperti orang mandi. Biasanya setelah berkeringat, penderita merasa sehat kembali.

Di daerah endemis malaria dimana penderita telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala klasik di atas timbul tidak berurutan bahkan bisa jadi tidak ditemukan gejala tersebut, kadang muncul gejala lain.

2.Gejala malaria dalam program pemberantasan malaria:
-Demam-Menggigil-Berkeringat
-Dapat disertai dengan gejala lain: Sakit kepala, mual dan muntah.
– Gejala khas daerah setempat: diare pada balita (di Timtim), nyeri otot atau pegal-pegal pada orang dewasa (di Papua), pucat dan menggigil-dingin pada orang dewasa (di Yogyakarta).

Diagnosis 1,2,4,5

Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesa yang tepat dari penderita tentang asal penderita apakah dari daerah endemik malaria, Riwayat berpergian kedaerah malaria, riwayat pengobatan kuratif maupun prefentif.

Pemeriksaan fisik
Demam dengan suhu lebih 37,5-40º C. Konjungtiva palpebra bisa ditemukan anemis.Terdapat hepatosplenomegali dan nyeri pada perabaan, pembesaran hati dapat disertai timbulnya ikterus.

Temuan Laboratorium
Anemia normokromik normositik merupakan kaidah yang harus terdapat.Jumlah leukositnya dapat rendah hingga normal, sekalipun pada infeksi yang berat dapat meninggi. LED, Viskositas plasma, dan kadar C-reaktif protein meningkat. Jumlah trombosit biasanya mengalami penurunan yang sedang (hingga sekitar 100000/µL). Pada infeksi yang berat, waktu protrombin serta waktu parsial tromboplastin memenjang, dan dapat terjadi trombositopenia yang berat. Kadar antitrombin III menurun sekalipun pada infeksi ringan. Pada penyakit malaria tanpa komplikasi, konsentrasi elektrolit, nitrogen, urea darah dan kreatinin dalam plasma biasanya normal. Pada malaraia Falciparum berat, asidosis metabolic dapat ditemukan dengan konsentrasi plasma glukosa, natrium, bikarbonat, kalsium,fosfat serta albumin yang rendah dan kadar plasma laktat,nitrogen, urea darah,kreatinin, urat, enzim otot serta hati dan bilirubin konjugasi serta unkonjugasi yang meninggi.

Pemeriksaan laboratorium yang lain
Tetesan preparat darah tebal
Pemeriksaan parasit dilakukan selama lima menit ( diperkirakan 100 lapang pandangan dengan pembesaran kuat ). Preparat dinyatakan negative bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan dengan pembesaran kuat tidak ditemukan parasit.
Tetesan darah tipis
Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium. Pengecatan dilakukan dengan cat Giemsa, atau Leisman’s atau Field’s dan juga Romanowsky.Dari pengecatan ini dapat terlihat bentuk aseksual parasit dalam sedian apus darah perifer.
Tes Antigen : P=F test
Mendeteksi antigen dari P. falciparum ( Histidine Rich Protein II )
Tes Serologi
Tes ini berguna mendeteksi adanya antibodo spesifik terhadap malaria pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostic sebab antibody baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia. Manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epidemiologi atau alat uji saring darah.
Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction )
Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. Tes ini baru dipakai sebagai sarana penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin.

Diagnosis Differensial 2,3

Demam merupakan salah satu gejala  malaria yang menonjol, yang juga dijumpai   pada hampir semua penyakit infeksi seperti infeksi virus pada system respiratorius , Influenza,Bruselosis, demam tifoid, demam dengue, dan infeksi bacterial lainnya seperti pneumonia, Infeksi saluran kemih, Tuberkulosis. Pada daerah Hiperendemik sering dijumpai penderita dengan imunitas yang tinggi sehingga penderita dengan infeksi malaria tetapi tidak menunjukan gejala klinis malaria. Pada malaria berat diagnosa banding tergantung manifestasi malaria beratnya. Pada malaria dengan ikterus , diagnosa banding ialah demam tifoid dengan Hepatitis, Kolesistitis, abses hati dan leptospirosis. Hepatitis pada saat timbul ikterusnya tidak dijumpai demam lagi. Pada malaria Cerebral harus dibedakan dengan infeksi pada otak lainnya seperti Meningitis, Ensefalitis, Tifoid ensefalopati, Tripanosiasis. Penurunan kesadaran dan koma dapat terjadi pada gangguan metabolik ( diabetes, uremi ), Gangguan cerebrovaskuler (stroke), Eklampsia, dan tumor otak.

Terapi 1,3,7

Meningkatnya insidens malaria disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu adanya kasus malaria yang resisten terhadap obat anti malaria. Resistensi parasit malaria terhadap klorokuin muncul pertama kali di Thailand pada tahun 1961 dan di Amerika Serikat pada tahun 1962. Dari kedua fokus ini resistensi meluas keseluruh dunia. Di Indonesia resistensi Plasmodium Falciparum terhadap klorokuin ditemukan pertama kali didaerah Kalimantan Timur pada tahun 1974, kemudian resistensi ini terus meluas dan pada tahun 1996 kasus-kasus malaria yang resisten klorokuin sudah ditemukan diseluruh provinsi Indonesia.
Kecepatan penyebaran resistensi plasmodium terhadap obat anti malaria tidak sama pada masing-masing daerah atau Negara. Menurut White. Ada 3 faktor yang menimbulkan resistensi yaitu faktor operasional, seperti dosis subterapeutik, kepatuhan penderita yang kurang, faktor farmakologik, dan faktor transmisi malaria, termasuk intensitas drug pressure dan imunitas. Untuk mencegah atau memperlambat laju resistensi , maka terapi kombinasi anti malaria yang rasional sangat dianjurkan.
Tujuan pengobatan malaria adalah menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mengurangi kesakitan, mencegah komplikasi dan relaps, serta mengurangi kerugian sosial ekonomi (akibat malaria).Tentunya ,obat yang ideal adalah yang memenuh isyarat :
•Membunuh semua stadium dan jenis parasit
•Menyembuhkan infeksi akut,kronis dan relaps
•Toksisitas dan efek samping sedikit
•Mudah cara pemberiannya
•Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Obat anti malaria Di Indonesia
Saat ini obat anti malaria yang tersedia di Indonesia terdiri dari obat-obat lama seperti, klorokuin, pirimetamin-sulfadoksin, kina dan primaquin.Juga sudah ada beberapa obat yang penggunaannya terbatas didaerah tertentu dan belum direkomendasi secara luas oleh Depkes. Contoh obat baru tersebut adalah kombinasi artesunate dengan amodiakuin, kombinasi artesunate dengan meflokuin, kombinasi artemisinin dengan naftokiun, dan artemeter injeksi.
Antibiotika yang bersifat anti malaria seperti derivat Tetrasiklin, Doksisiklin, Klindamisin, Eritromisin, Kloramfenikol, Sulfametoksazol-Trimetropin dan Quinolon. Obat ini umumnya bersifat Skizontosida darah untuk P. Falciparum, Kerjanya sangat lambat dan kurang efektif. Oleh sebab itu obat ini digunakan bersama obat anti malaria lainnya yang kerjanya cepat dan menghasilkan efek potensiasi yaitu antara lain dengan kina.

Pencegahan atau Profilaksis 5,6

Pencegahan dari gigitan nyamuk dengan Long Lasting Insecticide Treated Net (LLITN) atau Insecticide Treated Net (ITN).
Pencegahan dengan membunuh jentik disarang-sarang nyamuk dengan Larvasida : BTI, Altosid dll.
Pencegahan dengan penyemprotan dinding rumah atau tenda dengan Insektisida Etofenprox, Lamda-sihalotrine, Bendiocarb, dll
Pencegahan dengan minum obat profilaksis yaitu Doxycicline untuk pendatang berusia >8 tahun (1 tab 100mg) untuk pendatang dewasa tiap hari 1 tablet sejak 1 minggu sebelum masuk sampai 1 bulan setelah kembali.
Bila daerah dengan klorokuin sensitif cukup profilaksis dengan 2 tablet klorokuin (250 mg  klorokuin diphosphat) tiap minggu satu minggu sebelum berangkat
Pemetaan genagan air dengan jarak sampai 2 Km dekat pemukiman penduduk/ pengungsi.

Prognosis 4,7

Prognosis malaria berat tergantung kecepatan diagnosis , ketepatan dan kecepatan pengobatan
Pada malaria berat yang tidak ditanggulani, maka mortalitas yang dilaporkan pada anak-anak 15%, dewasa 20% dan pada kehamilan meningkat sampai 50%
Prognosis malaria berat dengan kegagalan satu fungsi oragan lebih baik daripada kegagalan 2 fungsi organ.
Mortalitas dengan kegagalan 3 fungsi organ, adalah >50%
Mortalitas dengan kegagalan 4 atau lebih fungsi organ adalah >75%
Adanya korelasi antara kepadatan parasit dengan klinis malaria berat yaitu :
Kepadatan parasit <100000, maka mortalitas <1%
Kepadatan parasit >100000, maka mortalitas >1%
Kepadatan parasit >500000, maka mortalitas >50%

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s