Info Avian flu

Flu Burung merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Influenza A subtipe H5N1 (H=hemagglutinin; N=neuraminidase) yang pada umumnya menyerang unggas, burung dan ayam yang kemudian dapat menyerang manusia (penyakit zoonosis).

Avian flu

Flu Burung merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Influenza A subtipe H5N1 (H=hemagglutinin; N=neuraminidase) yang pada umumnya menyerang unggas, burung dan ayam yang kemudian dapat menyerang manusia (penyakit zoonosis). Virus yang sejak akhir 2003 menyerang Asia Timur dan Selatan, juga menyerang ternak ayam Indonesia sejak Oktober 2003 1 .  Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi 2. Pada umumnya virus flu burung / avian influenza, tidak menyerang manusia. Tapi beberapa tipe terbukti dapat menyerang manusia atau suatu tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia. Kebanyakan ahli meyakini, transmisi penyakit ini berasal dari burung ke manusia dan bukan dari manusia ke manusia 1 .

Jalur Pantura – Indonesia, khususnya Kabupaten Indramayu bisa saja masuk daerah yang rawan terhadap berjangkitnya virus penyebab penyakit berbahaya flu burung. Hal itu disebabkan wilayah udaranya selama ini jadi jalur lalu lintas migrasi jutaan burung setiap pergantian musim. burung dari Australia atau Eropa, dalam perjalanan migrasinya yang menempuh ribuan kilometer, mengambil Kepulauan Rakit sebagai tempat peristirahatan atau transit. Pulau Rakit Utara, Gosong dan Rakit Selatan atau Pulau Biawak menjadi tempat persinggahan burung – burung itu. Di pulau-pulau itu, jutaan ekor burung tinggal cukup lama, 2 – 2,5 bulan. Di tempat peristirahatan itu, burung – burung bereproduksi, kawin dan banyak juga yang sampai menetaskan telurnya 1. Tetapi ini bukan berarti penyakit itu pasti menulari unggas domestik. Para pakar mengatakan pengendalian unggas yang ketat – seperti mencegah burung liar masuk ke peternakan – bisa mencegah penularan. Sebagai tambahan, mereka mengatakan pola migrasi unggas liar harus dipantau agar kedatangan sekelompok unggas terinfeksi bisa diketahui lebih awal sehingga bisa ditangani secepatnya begitu kelompok unggas tiba di satuNegara3.
 
Pada Januari 2004, di beberapa propinsi di Indonesia terutama Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat dilaporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa dan Kehebohan itu bertambah ketika wabah tersebut menyebabkan sejumlah manusia juga meninggal 2. Walau belum teridentifikasi adanya serangan virus itu dari unggas kepada manusia, tetap perlu diwaspadai dengan menyelenggarakan suatu surveilans khusus di daerah yang dilaporkan sedang berjangkit KLB unggas “flu burung” sampai keadaan kembali normal. Untuk mengidentifikasi adanya penularan virus flu burung dari unggas ke manusia, mendapatkan gambaran epidemiologi KLB flu burung ke manusia dan membuktikan tidak adanya penularan virus flu burung dari unggas ke manusia di setiap daerah di Indonesia, pemerintah melakukan surveilans epidemiologi 1
Gejala Klinis :

Masa inkubasi :  1 – 3 hari
Kematian pada hari ke 9-10 ( 6-17 )
Kematian rata-rata 9 hari setelah sakit
Ronsen memburuk pada 7 hari setelah muncul gejala

Masa Infeksius : 
1 hari sebelum sampai 3-5 hari setelah gejala timbul ( pada anak dapat mencapai 21 hari )
ILI ( Influenza Like Illnes ) :
demam > 38oC
lemas
sakit tenggorok
batuk
pilek
mialgia
konjungtivitis
sesak napas / napas pendek ( 5 hari sth gejala )
perdarahan hidung dan gusi
sakit kepala
encepalopati
anoreksi
muntah
nyeri perut dan diare
( gejala tiap individu bervariasi, jadi tidak semua gejala dapat muncul pada setiap orang )

Diagnosis :
Kasus Suspek :  
Demam > 38oC  
Radang tenggorok
Batuk   
Sesak
Lainnya :   Mengunjungi lokasi KLB 1 minggu terakhir
Kontak dengan penderita / dengan unggas
Pekerja lab specimen flu burung

Kasus Probable :   Kasus Suspek
Lainnya :  Lab mengarah virus influenza A ( H5N1 )
Pneumonia, gagal napas, meninggal
Tidak ditemukan penyebab lain

Kasus Konfirmasi :  Kasus suspek / probable
Hasil Lab :   Kultur virus H5N1 positif
PCR influenza ( H5 ) positif
Peningkatan titer Antibodi H5 4x

Pemeriksan fisik :
Keadaan umum memburuk
Pemeriksan saluran napas bagian bawah
Auskultasi : Ronki
Demam
Frekuensi pernapasan meningkat ( 28-70x / min  =  +  55 x )
Gagal napas

Pemeriksaan penunjang :
Lab :   
leukosit menurun ( n : 4500-11000 )
limfosit menurun ( n : 1500-4000 )
trombosit menurun ( n : 150rb-400rb )
CD4 / CD8 ( n : 1,4-2,0 )  : 0,7

Foto thorax :  
diffuse , bercak infiltrate bilateral
Konsolidasi segmental
kolaps lobaris
Air bronkogrameffusi pleura tidak jelas
Gambaran ronsen memburuk secara dramatic

Tanda virus telah menyerang jaringan paru y/I Pneumonia :
Gejala diatas tampak semakin berat
Gagal napas :  sesak sianosis
Kesadaran menurun 
syok
PO2 < 50 mmHg,  PCO2 > 50 mmHg
Sering disertai dengan infeksi bakteri

Factor resiko memberatnya penyakit flu burung :
Usia tua    
adanya keterlibatan infeksi saluran bawah
Terlambat perawatan  
leukopeni & limfopeni saat masuk

Tata laksana :
1. Istirahat

2. Peningkatan daya tahan tubuh

ANTIVIRUS:
Diberikan pada awal infeksi sedini mungkin ( 48 jam pertama )
1. penghambat M2 : 
Amantadine Hidroklorida ( symmetrel / symadine )
Rimantidine ( flumadine )
Dosis : 5mg / kgbb / hr dalam 2 dosis selama 3-5 hr
Jika bb > 45 kg diberikan 100mg ( 2x / hr )
Dosis harus diturunkan pada orang lanjut usia dan mereka yang mengalami penurunan fungsi ginjal dan hati

2. penghambat neurominidase : 
Oseltamivir ( tamiflu ) 75mg / 2x / hr
ESO : nausea, muntah, sakit kepala, lemas, insomnia, pusing

Zanamivir ( relenza ) untuk pasien < 7 th
ESO : bronkospasme, penurunan fungsi paru, sesak, diare, sinusitis, nausea, batuk, pusing
Diberikan selama 5 hr – 1 minggu

ANTIBIOTIK:
spectrum luas dan dosis tinggiRawat Inap :  
Sefalosporon G2 / G3
Floroquinolon iv

ICU : 
Sefalosporin G3/ G4 atau Karbapenem
+
floroquinolon  / Aminoglikosida

Gunakan strategi De-Escalation :
Untuk memenuhi kebutuhan adekuat terapi antibiotic pada pasien dengan resiko tinggi yang memiliki kecenderungan terjadi resistensi
Terapi dimulai < 4 jam
Spectrum luas
Dosis tinggi

Jangan menggunakan strategi Escalation karena :
Dapat meningkatkan angka mortalitas
Meningkatkan resistensi obat
Memperlama tinggal di RS sehingga mempertinggi biaya

RESPIRATORY CARE
1. Terapi oksigen :
indikasi pada pasien SpO2 < 95 % / PaO2 < 80mmhg
Pertahankan SpO2 > 90 % / PaO2 > 60mmhg

2. Indikasi intubasi  :  
mutlak : PaO2 < 100mmhg
Relative : 100 < PaO2 < 200mmhg

ANTIINFLAMASI
steroid ( Prednisolon 2mg / kgbb / hr ) jika perlu

IMUNOMODULATOR

ICU :
Pneumonia Berat :  1 / 2 gejala mayor  atau 2 gejala minor

Kriteria mayor :
membutuhkan ventilasi mekanik
Pertanbahan infiltrate > 50 %
Membutuhkan vasopressor > 4 jam ( septic syok )
Serum kreatinin > 2 mg / dl

Kriteria minor : 
frekuensi napas > 30 / mnt
PaO2 < 250 mmhg
Ronsen paru bilateral / > 2 lobus
Tekanan darah : sistolik < 90 mmhg dan diastolic < 60 mmhg

Pencegahan :
1. Petugas yang berhubungan dengan bahan infeksius, menggunakan : masker N95 . minimal masker bedah, kaca  mata google, apron, sarung tangan tebal sepetu bot karet
2. semua orang yang kontak langsung dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus rajin mencuci tangan dengan disinfektan / alcohol 70 %, begitu pula dengan alat-alat yang berhubungan dengan bahan infeksius
3. bahan-bahan infeksius di tata laksana dengan baik dan benar : dikubur / dibakar agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang sekitar
4. pembersihan kandang dan tinja tidak boleh keluar dari lokasi peternakan dan di tata laksana dengan benar
5. meningkatkan daya tahan tubuh misalnya dengan konsumsi vitamin C suplemen
6. konsumsi daging / telur unggas dilakukan dengan pengolahan makanan yang benar sesuai dengan sifat virus
7. menjaga kebersihan diri dan lingkungan
8. makan makanan bergizi dan teratur olah raga
9. Oseltamivir 75mg / hr selama 7 hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s