Info OA

Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Osteoarthritis merupakan penyakit sendi yang paling banyak dijumpai dan prevalensinya semakin meningkat dengan bertambahnya usia

Osteoarthritis

Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Osteoarthritis merupakan penyakit sendi yang paling banyak dijumpai dan prevalensinya semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Vertebra, lumbal, genu dan metatarsal paling sering terkena osteoarhritis. Masalah osteoarthritis di Indonesia tampaknya lebih besar dibandingkan negara barat kalau dilihat tingginya prevalensi penyakit osteoarthritis di Malang. Lebih dari 85% pasien osteoarhritis tersebut terganggu aktivitasnya terutama untuk kegiatan berjongkok, naik tangga dan berjalan (Nasution dan Sumariyono, 2006), sementara itu prevalensi osteoarthritis lutut radiologis di Indonesia cukup tinggi, yaitu mencapai 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita (Soeroso dkk, 2006). Arti dari gangguan jongkok dan menekuk lutut sangat penting bagi pasien osteoarthritis di Indonesia oleh karena banyak kegiatan sehari hari yang tergantung kegiatan ini khususnya Sholat dan buang air besar. Kerugian tersebut sulit diukur dengan materi
Pasien osteoarthritis biasanya mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada sendi yang terkena. Pada derajat yang lebih berat nyeri dapat dirasakan terus menerus sehingga sangat mengganggu mobilitas pasien. Karena prevalensi yang cukup tinggi dan sifatnya kronik-progresif, osteoarthritis mempunyai dampak sosioekonomik yang besar, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia menderita cacat karena osteoarthritis (Soeroso dkk, 2006). Pada abad mendatang tantangan terhadap dampak osteoarthritis akan lebih besar karena semakin banyaknya populasi yang berumur tua
Pemahaman yang lebih baik mengenai patogenesis osteoarthritis akhir akhir ini diperoleh antara lain berkat meningkatnya pengetahuan mengenai biokimia dan biomolekuler rawan sendi. Dengan demikian diharapkan kita dapat mengelola pasien osteoarthritis dengan lebih tepat dan aman
Perlu dipahami bahwa penyebab nyeri yang terjadi pada osteoarthritis bersifat multifaktoral. Nyeri dapat bersumber dari regangan serabut syaraf periosteum, hipertensi intra-oseus, regangan kapsul sendi, hipertensi intra-artikular, regangan ligamen, mikrofraktur tulang subkondral, bursitis dan spasme otot. Dengan demikian penting dipahami, bahwa walaupun belum ada obat yang benar benar dapat menyembuhkan osteoarthritis saat ini, namun terdapat berbagai cara untuk mengurangi nyeri dengan memperhatikan kemungkinan sumber nyerinya
Terapi osteoarthritis pada umumnya simptomatis, misalnya dengan pengendalian faktor faktor resiko, latihan, intervensi fisioterapi, dan terapi farmakologis, pada osteoarthritis fase lanjut sering diperlukan pembedahan. Untuk membantu mengurangi keluhan nyeri pada osteoarthritis, biasanya digunakan analgetik atau obat anti-inflamasi non steroid (OAINS). Karena keluhan nyeri pada osteoarthritis yang kronik dan progresif, pengunaan OAINS biasanya berlangsung lama, sehingga tidak jarang menimbulkan masalah. Di Amerika penggunaan OAINS menelurkan sekitar 100.000 pasien tukak lambung dengan 10.000-15.000 kematian setiap tahun (Soeroso dkk, 2006). Atas dasar masalah masalah tersebut diatas, para ahli berusaha mencari terapi farmakologis yang dapat memperlambat progresivitas kerusakan kartilago. Beberapa obat telah dan sedang dilakukan uji pada binatang maupun uji klinis pada manusia. Obat-obat baru tersebut sering disebut sebagai chondroprotective agents atau disease modifying osteoarthritis drugs (DMOADs)
Salah satu pengobatan mutahir yang sedang populer adalah penyuntikan menggunakan hyaluronic acid / HA secara intraartikular, komponen mukopolisakarida viskoelastis dari cairan sinovial. hyaluronic acid atau disebut hyaluronan atau hyaluronate adalah glikosaminoglikan dengan berat molekular tinggi, terdiri dari rantai molekul berulang dari asam glukoronat dan N-asetil-glukosamine, dan bisa ditemukan hampir di setiap jaringan ikat tubuh. Dalam persendian, hyaluronic acid membungkus tulang rawan sendi dan berperan sebagai lubrikan dan penyerap goncangan. Penelitian baru baru ini juga mendukung bahwa hyaluronic acid meningkatkan proliferasi dan diferensiasi kondrosit. Sementara itu dalam sendi yang patologis, konsentrasi hyaluronic acid dalam sendi menurun hingga 33% sampai 50% (Hart dan Miller , 2007), membatasi perannya dalam menjaga fungsi biomekanisme sendi normal. Tujuan dari injeksi hyaluronic acid intraartikular ini adalah sebagai visko-suplemen yang menggantikan hyaluronic acid yang hilang dan mungkin menstimulasi pembentukan hyaluronic acid endogen baru dalam sendi. Walaupun mekanisme pastinya belum diketahui benar, hyaluronic acid juga memiliki sifat anti-inflamasi, analgesik dan bahkan efek chondroprotective dalam sendi dan tulang rawan sendi.
Sampai sekarang ada 5 formula injeksi hyaluronic acid yang diakui dan dipergunakan di Amerika. Yaitu Synvisc (r) Hyalgan (r) Supartz (r) Orthovisc (r) dan Euflexxa (r). Dari semua formula diatas berbeda dalam hal persiapan, bahan dasar, metode produksi, tatacara terapi, berat moleuker, masa paruh waktu dalam sendi, viskositas, farmakodinamik dan harga. Walaupun terapi injeksi hyaluronic acid intraartikular ini diindikasikan untuk nyeri pada osteoarthritis lutut, penelitian terkini menunjukan bahwa pengunaan injeksi hyaluronic acid pada lumbal, articulatio humeri dan metatarsal sama efektifnya dalam mengurangi rasa nyeri dengan pengunaan pada genu.
Produk hyaluronic acid yang sedang hangat dibahas adalah Euflexxa yang berbeda dengan produk hyaluronic acid lainnya karena dia adalah produk hyaluronic acid non avian pertama dan satu satunya yang diakui oleh Food Drug Association / FDA untuk pengobatan osteoarthritis. Euflexxa dihasilkan dari sel sel bakteri melalui fermentasi seluler dan tidak mengandung kimia sambung silang (cross link) ataupun modifikasi struktur dari molekul hyaluronic acid.
Euflexxa didesain agar mirip dengan hyaluronic acid yang alami di persendian normal kita, baik dalam segi stuktur, berat molekul maupun tingkat kemurnian. Satu struktur rantai hyaluronic acid Euflexxa sangat mirip dengan hyaluronic acid manusia.
Kemurnian dari Euflexxa sudah diverifikasi melalui berbagai tes laboratorium dan prosedur, termasuk elektroforesis, UV absorbance spectrophotometry, high liquid chromatography dan immunoradiometric assay. Tes untuk Euflexxa telah dikonfirmasi bahwa ketidak murnian semacam protein asing, asam nukleat, endotoksin dan zat potensial penyebab inflamasi berada pada batas ambang deteksi
Kemurnian dari Euflexxa menyingkirkan resiko terjadinya alergi atau reaksi hipersensitivitas yang mungkin bisa terjadi karena kontaminasi protein avian, asam nukleat dan endotoksin yang terdapat pada produk hyaluronic acid lainnya
Dalam Islam penggunaan hyaluronic acid sebagai obat tidak disebutkan secara khusus baik didalam Al-Qur’an maupun Hadits. Apakah hyaluronic acid mengandung najis dan zat yang diharamkan, terutama sekali mengenai salah satu produk hyaluronic acid yaitu Euflexxa yang dikatakan bahwa diproduksi dari non avian, bagaimana dengan cara pengolahan dan penggunaannya apakah sudah sesuai dengan ketentuan Islam atau tidak
Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk membahas lebih jauh penyuntikan hyaluronic acid pada osteoarthritis.
PENYUNTIKAN MENGGUNAKAN HYALURONIC ACID PADA PENDERITA OSTEOARTHRITIS DITINJAU DARI KEDOKTERAN

OSTEOARTHRITIS / OA
Osteoarthritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. Penyakit ini bersifat kronis, berjalan progresif lambat, tidak meradang, dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan sendi (Soeroso dkk, 2006)
Osteoarthritis adalah bentuk arthritis yang paling umum, dengan jumlah pasiennya sedikit melampaui separuh jumlah pasien arthritis. Gangguan ini sedikit lebih banyak pada perempuan daripada laki laki dan terutama ditemukan pada orang orang yang berusia lebih dari 45 tahun. Penyakit ini pernah dianggap sebagai suatu proses penuaan normal, sebab insidens bertambah dengan meningkatnya usia. Osteoarthritis dahulu diber nama arthritis ”yang rusak karena dipakai” karena sendi. Namun, menjadi aus dengan bertambahnya usia. Tetapi temuan temuan yang lebih baru dalam bidang biokimia dan biomekanik telah menyanggah teori ini (Soeroso dkk, 2006)
Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteoglikan dan kolagen rawan sendi. Dengan alasan alasan yang masih belum diketahui, sintesis proteoglikan dan kolagen meningkat tajam pada osteoarthritis. Tetapi, substansi ini juga dihancurkan dengan kecepatan lebih tinggi, sehingga pembentukan tidak mengimbangi kebutuhan. Sejumlah kartilago tipe I mengantikan tipe II yang normal, sehingga terjadi perubahan pada diameter dan orientasi serat kolagen yang mengubah biomekanika dari kartilago. Rawan sendi kemudian kehilangan sifat kom-presibilitasnya yang unik (Soeroso dkk, 2006)

Etiopatogenesis Osteoarthritis
Berdasarkan patogenesisnya osteoarthritis dibedakan menjadi dua yaitu osteoarthritis primer dan osteoarthritis sekunder. Osteoarthritis primer disebut juga osteoarthritis idiopatik yaitu osteoarthritis yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. osteoarthritis sekunder adalah osteoarthritis yang didasari oleh adanya kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter, jejas mikro dan makro serta imobilisasi yang terlalu lama. Osteoarthritis primer lebih sering ditemukan daripada osteoarthritis sekunder (Woodhead, 1989., Sunarto, 1990., Rahardjo, 1994., Soeroso dkk, 2006)
Selama ini osteoarthritis sering dipandang sebagai akibat proses penuaan yang tidak dapat dihindari. Para pakar yang meneliti ini sekarang berpendapat bahwa osteoarthritis ternyata merupakan penyakit gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago yang penyebabnya belum jelas diketahui (Woodhead, 1989). Osteoarthritis dapat terjadi melalui dua mekanisme, pertama, ketika rawan penyusun tulang subkondral normal tetapi mendapatkan beban berlebih di lutut dan kedua, ketika beban normal tetapi rawan tulang mengalami kemunduran (Leslie, 1999). Osteoarthritis ditandai dengan fase hipertrofi kartilago yang berhubungan dengan suatu peningkatan terbatas dari sintesa matrik makromolekuler oleh kondrosit sebagai kompensasi perbaikan (repair)(Brandt, 1993). Osteoarthritis terjadi sebagai hasil kombinasi antara degradasi rawan sendi, remodelling tulang dan inflamasi cairan sendi (Woodhead, 1989., Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006)
Beberapa penelitian membuktikan bahwa rawan sendi ternyata dapat melakukan perbaikan sendiri dimana kondrosit akan mengalami replikasi dan memproduksi matriks baru (Woodhead,1989., Dingle, 1991., Wen, 2000). Proses perbaikan ini dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan suatu polipeptida yang mengontrol proliferasi sel dan membantu komunikasi antar sel. Faktor ini menginduksi kondrosit untuk mensintesis protein seperti kolagen serta proteoglikan. Faktor pertumbuhan yang berperan adalah insulin like growth factor, growth hormon, dan lainnya (Soeroso dkk, 2006)
Peningkatan degradasi kolagen akan mengubah keseimbangan metabolisme rawan sendi. Kelebihan produk hasil degradasi matriks rawan sendi ini cenderung berakumulasi di sendi dan menghambat fungsi rawan sendi serta mengawali suatu respon imun yang menyebabkan inflamasi sendi (Woodhead, 1989., Pelletier, 1990). Rerata perbandingan antara sintesa dan pemecahan matriks rawan sendi pada pasien osteoarthritis kenyataannya lebih rendah dibanding normal yaitu 0,29 dibanding 1 (Dingle, 1991., Soeroso dkk, 2006)
Pada rawan sendi pasien osteoarthritis juga terjadi proses peningkatan aktivitas fibrinogenik dan penurunan aktivitas fibrinolitik. Proses tersebut menyebabkan penumpukan trombus dan komplek lipid pada pembuluh darah subkondral yang menyebabkan iskemia dan nekrosis jaringan subkondral tersebut (Ghosh, 1992). Ini mengakibatkan dilepaskannya mediator kimiawi seperti PG dan interleukin yang selanjutnya menimbulkan bone angina lewat subkondral yang diketahui mengandung ujung saraf sensibel yang dapat menghantarkan rasa sakit (Moskowitz, 1987). Penyebab rasa sakit itu dapat juga berupa akibat dari dilepasnya mediator kimia seperti kinin dan prostaglandin yang menyebabkan radang sendi (Brandt, 1987., Cefalu dan Waddell, 1999). Sakit pada sendi juga diakibatkan oleh adanya osteofit yang menekan periosteum dan radiks saraf yang berasal dari medulla spinalis serta kenaikan tekanan vena intramedular akibat stasis vena intramedular karena proses remodelling pada trabekula dan subkondrial (Moskowitz, 1987., Brandt, 1987., Soeroso dkk, 2006)

Faktor resiko osteoarthritis
Untuk penyakit dengan penyebab tidak jelas, istilah faktor resiko (faktor yang meningkatkan resiko penyakit) adalah lebih tepat. Secara garis besar faktor resiko untuk timbulnya osteoarthritis (primer) adalah seperti di bawah ini. Harus diingat bahwa masing masing sendi mempunyai biomekanik, cedera dan persentase gangguan yang berbeda, sehingga peran faktor faktor resiko tersebut untuk masing masing osteoarthritis tertentu berbeda. (Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006)
Umur
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoarthritis, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya osteoarthritis semakin meningkat dengan bertambah umur. Osteoarthritis hampir tidak pernah pada anak anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun. Akan tetapi harus diingat bahwa osteoarthritis bukan akibat ketuaan saja. Perubahan tulang rawan sendi pada ketuaan berbeda dengan perubahan pada osteoarthritis (Soeroso dkk, 2006., Brandt, 2001)
Jenis kelamin
Wanita lebih sering terkena osteoarthritis lutut dan osteoarthritis banyak sendi, dan lelaki lebih sering terkena osteoarthritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan, di bawah 45 tahun frekuensi osteoarthritis kurang lebih sama pada laki laki dan wanita, tetapi di atas 50 tahun (setelah menopause) frequensi osteoarthritis lebih banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoarthritis (Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006., Brandt, 2001., Leslie, 1999).
Suku bangsa
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoarthritis nampaknya terdapat perbedaan di antara masing masing suku bangsa. Misalnya osteoarthritis paha lebih jarang di antara orang orang kulit hitam dan Asia daripada kaukasia. Osteoarthritis lebih sering dijumpai pada orang orang Amerika asli (Indian) daripada orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan (Soeroso dkk, 2006., Brandt, 2001)
Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoarthritis misalnya, pada ibu dari seorang wanita dengan osteoarthritis pada sendi sendi interfalang distal (nodus Heberden) terdapat 2 kali lebih sering osteoarthritis pada sendi sendi tersebut, dan anak anak perempuannya cenderung mempunyai 3 kali lebih sering, daripada ibu dan anak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis tersebut. Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen gen struktural lain untuk unsur unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan dikatakan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada osteoarthritis tertentu (terutama osteoarthritis banyak sendi) (Soeroso dkk, 2006., Brandt, 2001)
Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoarthritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan gternyata tak hanya berkaitan dengan osteoarthritis pada sendi yang menanggung beban, tetapi juga pada osteoarthritis sendi lain (tangan dan sternoklavikula). Oleh karena itu disamping faktor mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis) diduga terdapat faktor lain (metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut. Peran faktor metabolik dan hormonal pada kiatan antara osteoarthritis dan kegemukan juga disokong oleh adanya kaitan antara osteoarthritis dan penyakit jantung koroner, diabetes melitus dan hipertensi. Pasien pasien osteoarthritis ternyata mempunyai resiko penyakit jantung koroner dan hipertensi lebih tinggi dibandingkan orang tanpa osteoarthritis (Soeroso dkk, 2006., Brandt, 2001)
Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus (misalnya tukang pahat, pemetik kapas) berkaitan dengan peningkatan resiko osteoarthritis tertentu. Demikian juga olahraga yang seringkali menimbulkan cedera sendi berkaitan dengan resiko osteoarthritis yang lebih tinggi. Peran beban benturan yang berulang pada timbulnya osteoarthritis masih menjadi pertentangan. Aktivitas aktivitas tertentu dapat menjadi predisposisi osteoarthritis cedera traumatik (misalnya robeknya meniskus, ketidakstabilan ligamen) yang dapat mengenai sendi. Akan tetapi selain cedera yang nyata, hasil hasil penelitian tidak menyokong pemakaian yang berlebihan sebagai suatu faktor untuk timbulnya osteoarthritis. (Soeroso dkk, 2006., Brandt, 2001)

Riwayat penyakit
Pada umumnya pasien osteoarthritis mengatakan bahwa keluhan keluhannya sudah berlangsung lama, tetapi berkembang perlahan lahan
Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama yang seringkali membawa pasien berobat (meskipun mungkin sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya). Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan lain. Selain itu nyeri dapat memburuk dengan adanya peningkatan beban yang dibawa, walau pertamanya nyeri bersifat intermiten namun dalam keadaan yang lebih parah nyeri bisa berlanjut terus menerus (continuous) (Soeroso dkk, 2006., Leslie, 1999) Nyeri pada osteoarthritis juga dapat berupa penjalaran akibat radikulopati, misalnya pada osteoarthritis servical dan lumbal. Osteoarthritis lumbal yang menimbulkan stenosis spinal mungkin menimbulkan keluhan nyeri di betis, yang biasa disebut claudicatio intermitten (Soeroso dkk, 2006)
Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan pelan sejalan bertambahnya rasa nyeri (Soeroso dkk, 2006)
Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah imobilitas, seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama bahkan setelah bangun tidur
Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang kadang terdengar) pada sendi yang sakit (Soeroso dkk, 2006)
Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukan bahwa salah satu sendinya (seringkali terlihat di lutut dan tangan) secara pelan pelan membesar (Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006)
Perubahan gaya berjalan
Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien. Hampir semua pasien osteoarthritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien osteoarthritis yang umumnya tua (Soeroso dkk, 2006)

Pemeriksaan fisik
Hambatan gerak
Perubahan ini seringkali sudah ada meskipun pada osteoarthritis yang masih dini (secara radiologis). Biasanya bertambah berat dengan semakin beratnya penyakit, sampai sendi hanya bisa digoyangkan dan menjadi kontraktur. Hambatan gerak dapat konsentris (seluruh arah gerak) maupun eksentrik (salah satu gerakan saja) (Soeroso dkk, 2006)
Krepitasi
Gejala ini lebih berarti untuk pemeriksaan klinis osteoarthritis lutut. Pada awalnya hnya berupa perasaan akan adanya suatu yang patah atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa. Dengan bertambah beratnya penyakit, krepitasi dapat terdengar sampai jarak tertentu. Gejala ini mungkin timbul karena gesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakan atau secara pasif dimanipulasi (Soeroso dkk, 2006)
Pembengkakan sendi yang seringkali asimetris
Pembengkakan sendi pada osteoarthritis dapat timbul karena efusi pada sendi yang biasanya tidak banyak (<100cc). Sebab lain ialah karena adanya ostefit, yang dapat mengubah permukaan sendi (Soeroso dkk, 2006)
Tanda tanda peradangan
Tanda tanda adanya peradangan pada sendi (nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan) mungkin dijumpai pada osteoarthritis karena adanya sinovitis. Biasanya tanda tanda ini tak menonjol dan timbul belakangan. Seringkali dijumpai di lutut, pergelangan kaki dan sendi sendi kecil tangan dan kaki (Soeroso dkk, 2006)
Perubahan bentuk (deformitas) sendi yang permanen
Perubahan ini dapat timbul karena kontraktur sendi yang lama, perubahan permukaan sendi, berbagai kecacatan dan gaya berdiri dan perubahan pada tulang dan permukaan sendi (Soeroso dkk, 2006)
Perubahan gaya berjalan
Keadaan ini hampir selalu berhubungan dengan nyeri karena menjadi tumpuan berat badan. Terutama dijumpai pada osteoarthritis lutut, sendi paha dan osteoarthritis tulang belakang dengan stenosis spinal. Pada sendi sendi lain, seperti tangan bahu, siku dan pergelangan tangan, osteoarthritis juga menimbulkan gangguan fungsi (Soeroso dkk, 2006)

Pemeriksaan radiologis
Gambaran radiografi sendi yang menyokong diagnosis osteoarthritis ialah :
Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang menanggung badan)
Peningkatan densitas (sklerosis) tulang subkondral
Kista tulang
Osteofit pada pinggir sendi
Perubahan struktur anatomi sendi (Soeroso dkk, 2006)

Pemeriksaan laboratoris
Hasil pemeriksaan laboratorium pada osteoarthritis biasanya tidak banyak berguna. (Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006) Darah tepi (Hb, leukosit, laju endap darah) dalam batas batas normal, kecuali osteoarthritis generalisata yang harus dibedakan dengan arthritis peradangan. Pemeriksaan imunologi (ANA, faktor reumatoid dan komplemen) juga normal. Pada osteoarthritis yang disertai peradangan mungkin didapatkan penurunan viskositas, pleositosis ringan sampai sedang, peningkatan ringan sel peradangan (<8000/m) dan peningkatan protein (Soeroso dkk, 2006)

Pengelolaan
Pengelolaan osteoarthritis berdasarkan atas distribusinya (sendi mana yang terkena) dan berat ringannya sendi yang terkena. Pengelolaannya terdiri dari 3 hal
1. Terapi nonfarmakologis
A. Edukasi atau penerangan
B. Terapi fisik dan rehabilitasi
C. Penurunan berat badan
2. Terapi farmakologis
A. Analgesik oral non opiat
B. Analgesik topikal
C. OAINS
D. Chondroprotective
E. Steroid intraartikular
3. Terapi bedah (Soeroso dkk, 2006)
Dari semua diatas, tatalaksana yang dianggap pertama atau first line untuk osteoarthritis meliputi analgesik non opiat seperti asetaminofen untuk nyeri kronis, penurunan berat badan, analgesik topikal dan olahraga (Cefalu dan Waddell, 1999)

Terapi non farmakologis
Edukasi
Maksud dari edukasi adalah agar pasien mengetahui sedikit seluk beluk tentang penyakitnya, bagaimana menjaganya agar penyakitnya tidak bertambah parah serta persendiannya tetap dapat dipakai (Soeroso dkk, 2006)

Terapi fisik dan rehabilitasi
Terapi ini untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit (Wen, 2000., Soeroso dkk, 2006). Terapi fisik dalam bentuk range of motion, penguatan otot (muscle strengthening) dan olahraga daya tahan (endurance exercises) dapat menstabilkan sendi dan biasanya mengurangi rasa nyeri. Walau olahraga dapat memperburuk pembengkakan, tetapi dalam jangka panjang dapat mempertahankan fungsi dan kekuatan sendi yang terjangkit (Burning & Materson, 1991., Geier, 2002). Selain itu dengan olahraga, pasien diharapkan juga dapat menurunkan berat badannya, mengingat berat badan berlebih dapat memperberat osteoarthritis (Geier, 2002)
Penurunan berat badan
Seperti disebutkan diatas, berat badan yang berlebihan ternyata merupakan faktor yang akan memperberat penyakit osteoarthritis. Oleh karenanya berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan. Apabila berat badan berlebihan, maka harus diusahakan penurunan berat badan, bila mungkin mendekati berat badan ideal (Soeroso dkk, 2006). Penurunan berat badan disesuaikan antara berat badan yang tercatat dengan berat badan ideal, metoda yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas adalah BMI (Body Mass Index), yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter).

Terapi farmakologis
Analgesik oral non opiat
Pada umumnya pasien telah mencoba untuk mengobati sendiri penyakitnya, terutama dalam hal mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. (Wen, 2000). Banyak sekali obat obatan yang dijual bebas yang mampu mengurangi rasa sakit. Pada umumnya pasien mengetahui hal ini dari iklan di media massa (Soeroso dkk, 2006). Acetaminofen adalah drug of choice awal untuk osteoarthritis, jika gagal dengan menggunakan acetaminofen, dapat digunakan analgesik topikal atau oral OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) . OAINS tidak direkomendasikan sebagai drug of choice awal, mengingat dari toksisitasnya terhadap lambung (Leslie, 1999)
Analgesik topikal
Analgesik topikal dengan mudah dapat kita dapatkan dipasaran dan banyak sekali dijual bebas. Pada umumnya pasien telah mencoba terapi dengan cara ini, sebelum memakai obat obatan peroral lainnya (Soeroso dkk, 2006)
OAINS
Apabila dengan cara cara tersebut diatas tidak berhasil, pada umumnya pasien mulai datang ke dokter. Dalam hal seperti ini kita pikirkan untuk pemberian OAINS, oleh karena obat golongan ini disamping mempunyai efek analgetik juga mempunyai efek anti inflamasi. Oleh karena pasien osteoarthritis kebanyakan usia lanjut, maka pemberian obat obatan jenis ini harus sangat berhati hati. Jadi pilihlah obat yang efek sampingnya minimal dan dengan cara pemakaian yang sederhana, disamping pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya efek samping selalu harus dilakukan (Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006). Mengingat efek samping OAINS sering berupa gangguan gastrointestinal. Ulkus peptikum terjadi kira kira 5-25% dari orang yang menggunakan OAINS. Angka kejadian sebegitu tinggi sehingga kadang disebut sebagai ”NSAID gastropathy” (Schnitzer, 1995). Komplikasi ke ginjal dan hati juga meningkat seiring pengunaan OAINS, walaupun demikian OAINS terbilang sangat efektif untuk mengurangi rasa nyeri dan inflamasi. Sebagai tambahan, OAINS paling sering diresepkan karena cukup dikenal dan mudah untuk di dapat di apotik (Geier, 2002)
Chondroprotective agent
Yang dimaksud dengan chondroprotective agent adalah obat obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan (repair) tulang rawan sendi pada pasien osteoarthritis. Sebagian peneliti mengolongkan obat obatan tersebut dalam Slow Acting Anti Osteoarthritis Drugs (SAAODs) atau Disease Modifying Anti Osteoarthritis Drugs (DMAODs). Sampai saat ini yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah : tetrasiklin, asam hialuronat, kondrotin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin C, superokside desmutase (Soeroso dkk, 2006)
Tetrasiklin dan derivatnya mempunyai kemampuan untuk menghambat kerja enzim metaloproteinase dengan cara menghambatnya, Salah satu contohnya adalah doxycylcine, sayangnya obat ini baru dicobakan pada hewan belum pada manusia (Soeroso dkk, 2006)
Asam hialuraonat disebut juga sebagai viscosupplement oleh karena salah satu manfaat obat ini adalah dapat memperbaiki viskositas cairan sinovial, obat ini diberikan intra artikuler. Asam hialuronat ternyata memegang peranan penting dalam pembentukan matrik tulang melalui agregasi dengan proteoglikan. Disamping itu pada binantang percobaan, asam hialuronat dapat mengurangi inflamasi pada sinovium, menghambat angiogenesis dan kemotaksis sel inflamasi, Mengenai hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam topik tersendiri. (Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006)
Glikosaminoglikan, dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam proses degradasi tulang rawan, antara lain : hialuronidase, protease, elastase dan cathepsin B1 invitro dan juga dapat merangsang sintesis proteoglikan dan asam hialuronat pada kultur tulang rawan sendi manusia. (Soeroso dkk, 2006)
Kondrotin sulfat, merupakan komponen penting pada jaringan kelompok vertebrata, dan terutama jaringan yang mengandung kondrotin sulfat adalah tulang rawan sendi dan zat ini merupakan bagian dari proteoglikan. Menurut Hardingham (1998), tulang rawan sendi terdiri dari 2% sel dan 98% matrix ekstraseluler yang terdiri dari kolagen dan proteoglikan. Matriks ini membentuk suatu struktur yang utuh sehingga dapat menerima beban tubuh. Pada penyakit sendi degeneratif seperti osteoarthritis terjadi kerusakan tulang rawan sendi dan salah satu penyebabnya adalah hilangnya atau berkurangnya proteoglikan pada tulang rawan tersebut. Menurut penelitian Uebelhart dkk (1998) pemberian kondrotin sulfat pada kasus osteoarthritis mempunyai efek protektif terhadap terjadinya kerusakan tulang rawan sendi. Sedang Ronca dkk (1998) telah mengambil kesimpulan dalam penelitiannya tentang kondrotin sulfat sebagai berikut : efektivitas kondrotin sulfat pada pasien osteoarthritis mungkin melalui tiga mekanisme utama yaitu; (1) antiinflamasi, (2) efek metabolik terhadap sintesis hialuronat dan proteoglikan, (3) antidegradatif melalui hambatan enzim proteolitik dan menghambat efek oksigen reaktif (Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006)
Vitamin C, dalam penelitian ternyata dapat menghambat aktivitas enzim lisozim. Pada pengamatan ternyata vitamin C mempunyai manfaat dalam terapi osteoarthritis (Fife dan Brandt,1992)
Superokside dismutase, dapat dijumpai pada setiap sel mamalia dan mempunyai kemampuan untuk menghilangkan superokside dan hidoksil radikal. Secara invitro, radikal superokside mampu merusak asam hialuronat, kolagen dan proteoglikan sedang hidrogen peroksida dapat merusak kondrosit secara langsung. Dalam percobaan klini dilaporkan bahwa pemberian superokside dismutase ini dapat mengurangi keluhan keluhan pada pasien osteoarthritis (Fife & Brandt, 1992., Soeroso dkk, 2006)
Steroid intraartikular
Pada penyakit arthritis reumatoid menunjukan hasil yang baik. (Wen, 2000).  Kejadian inflamasi kadang kadang dijumpai pada pasien osteoarthritis, oleh karena itu kortikosteroid intra artikuler telah dipakai dan mampu mengurangi sakit, walaupun hanya dalam waktu yang singkat. Penelitian selanjutnya tidak menunjukan keuntungan yang nyata pada pasien osteoarthritis, sehingga pemakaiannya dalam hal ini masih kontroversial (Soeroso dkk, 2006., Felson, 2006)
Terapi bedah
Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang menganggu aktivitas sehari hari (Soeroso dkk, 2006)
PENYUNTIKAN HYALURONIC ACID PADA OSTEOARTHRITIS
Injeksi hyaluronic acid secara intraartikular, komponen mukopolisakarida visko-elastis dari cairan sinovial, semakin meningkat popularitasnya sebagai terapi osteoarthritis non bedah. Hyaluronic acid atau disebut hyaluronan atau hyaluronate adalah glikosaminoglikan dengan berat molekular tinggi (500.000-730.000 dalton), terdiri dari rantai molekul berulang dari asam glukoronat dan N-asetil-glukosamine, dan bisa ditemukan hampir di setiap jaringan ikat tubuh. Dalam persendian, hyaluronic acid melapisi rawan sendi dan berperan sebagai lubrikan dan penyerap goncangan, hyaluronic acid juga berperan sebagai tulang punggung dari proteoglikan dari matriks ekstraseluler, menciptakan jalan terhidrasi dimana antar sel dapat bermigrasi. Penelitian baru baru ini juga mendukung bahwa hyaluronic acid meningkatkan proliferasi dan diferensiasi kondrosit. Sementara itu dalam sendi yang patologis, konsentrasi hyaluronic acid dalam sendi menurun hingga 33% sampai 50% (Hart dan Miller , 2007., Wen, 2000., Geier, 2002), membatasi perannya dalam menjaga fungsi biomekanisme sendi normal. Tujuan dari injeksi hyaluronic acid intraartikular ini adalah sebagai visko-suplemen yang menggantikan hyaluronic acid yang hilang dan mungkin menstimulasi pembentukan hyaluronic acid endogen baru dalam sendi. Hyaluronic acid juga memiliki sifat anti-inflamasi, analgesik dan bahkan efek chondroprotective dalam sendi dan tulang rawan sendi (Hart dan Miller , 2007., Wen, 2000., Geier, 2002). Efek anti-inflamasi memiliki mekanisme mirip OAINS dengan menekan dari pelepasan prostaglandin yang dapat menyebabkan inflamasi. Walau demikian, tidak seperti OAINS, hyaluronan tidak akan mengiritasi lambung, karena hyaluronan hanya bersifat lokal dan tidak sistemik (Geier, 2002). Sedangkan efek analgesik terjadi karena molekul hyaluronan dapat mendapar (buffer) ujung ujung saraf (Leslie, 1999., Geier, 2002)
Sampai sekarang ada 5 formula injeksi hyaluronic acid yang diakui dan dipergunakan di Amerika. Meliputi Synvisc (r) Hyalgan (r) Supartz (r) Orthovisc (r) dan Euflexxa (r). Dari semua formula diatas berbeda dalam hal persiapan, bahan dasar, metode produksi, tatacara terapi, berat moleuker, masa paruh waktu dalam sendi, viskositas, farmakodinamik dan harga. Walaupun terapi injeksi hyaluronic acid intraartikular ini diindikasikan untuk nyeri pada osteoarthritis lutut, penelitian terkini mendemonstrasikan bahwa pengunaan injeksi hyaluronic acid pada pinggang, pundak dan pergelangan kaki sama efektifnya dalam mengurangi rasa nyeri dengan pengunaan pada lutut. (Hart dan Miller , 2007)

Pasien
Dengan semakin tersedianya terapi injeksi hyaluronic acid intraartikular ini, penentuan kandidat yang ideal menjadi penting. Hyaluronic acid tidak diberikan kepada sembarang pasien kecuali mereka yang memiliki nyeri hebat berhubungan dengan arthritis di lutut dan gagal dengan pengunaan terapi konservatif (Hart dan Miller , 2007., Cefalu dan Waddell, 1999). Dapat juga menjadi alternatif bagi pasien yang sudah tua tetapi gagal dengan terapi analgesik dasar tetapi bukan kandidat untuk operasi atau ingin menunda operasi selama satu tahun atau lebih (Cefalu dan Waddell, 1999). Sampai sekarang tidak ada hubungan langsung antara jenis kelamin, umur dan IMT (Indeks massa tubuh) dengan efektivitas visco-suplemen (Hart dan Miller , 2007)
OAINS telah lama digunakan sebagai terapi utama untuk osteoarthritis ringan sampai sedang, tetapi dengan efek samping yang berbahaya, OAINS tidak ditoleransi baik oleh semua pasien. Terutama untuk OAINS yang nonselektif, gangguan saluran cerna lebih sering dihubungkan. Beberapa analis memperkirakan bahwa resiko timbulnya ulkus peptikum bahkan dalam terapi yang singkat (6 hari sampai 2 minggu), resikonya meningkat 16-22%. Dimana 44% dari pasien mengeluhkan dispepsia parah yang membutuhkan terapi lain. (Hart dan Miller , 2007)
Injeksi kortikosteroid telah juga digunakan sebagai terapi osteoarthritis. Mereka biasanya ditoleransi baik, tetapi harus dibatasi tiga sampai empat injeksi pertahun dikarenakan dapat meningkatkan resiko degradasi kartilago lebih cepat bila injeksi kortikosteroid digunakan lebih sering
Unloader bracer dan terapi fisik juga berperan penting dalam mengatasi gejala dari arthritis, tetapi perannya lebih ke arah adjuvant terapi (Hart dan Miller , 2007)

Waktu
Waktu pemberian injeksi hyaluronic acid intraartikular penting untuk dipertimbangkan. Penelitian multipel menunjukan bahwa tingkat keparahan osteoarthritis berhubungan bermakna dengan respon pasien dan mungkin berhubungan dengan waktu pemberiannya. Beberapa standar tingkatan osteoarthritis telah diciptakan untuk menstandarisasi tingkat keparahan osteoarthritis berdasarkan gambaran radiologis dari sendi yang arthritis. Kellgren dan Lawrence menciptakan standar tingkatan osteoarthritis pertama pada tahun 1957. Sedangkan standar Larsen diciptakan pada tahun 1977 digunakan untuk memberi nilai kuantitas terhadap keparahan arthritis reumatoid berdasarkan radiografik yang objektif. (Hart dan Miller , 2007)

Standar tingkatan osteoarthritis
Kellgren & Lawrence grading scale  penampakan radiografik
0  normal
1 osteofit minimal, jarak ruang sendi menyempit diragukan
2 osfeofit definet, mungkin terdapat ruang sendi yang menyempit
3 osteofit moderat, ruang sendi menyempit dan beberapa sklerosis dan  deformitas
4 osteofit besar, ruang sendi menyempit definet dan sklerosis dan deformitas  parah (Hart dan Miller , 2007)
Dengan mengunakan Larsen index keluaran dengan osteoarthritis tingkat 1 sampai 3, mempunyai skor peningkatan subjektif lebih baik dan angka rekurensi yang lebih rendah dibandingkan dengan osteoarthritis tingkat 3 dan 4 bila mengunakan injeksi hyaluronic acid. Penelitian lain secara retrospektif mengatakan bahwa pasien dengan tingkat I setelah mendapatkan terapi injeksi hyaluronic acid mengalami perbaikan hingga 91% dibandingkan dengan tingkat IV yang perbaikannya hanya 58%. Pengambilan keputusan klinis untuk pengunaan injeksi hyaluronic acid pada terapi osteoarthritis lutut diperlukan evaluasi radiologis yang hati hati. Untuk keuntungan maksimum, pasien sebaiknya dikonsulkan untuk diterapi injeksi hyaluronic acid sedini mungkin dari osteoarthritis nya (Hart dan Miller , 2007)

Indikasi
Dari semua indikasi yang dibahas disini, sebagian besar injeksi hyaluronic acid intraartikular digunakan hanya pada sendi lutut, sebenarnya efektifitas injeksi hyaluronic acid ini tidak hanya berlaku pada lutut, tetapi berlaku untuk semua sendi sinovial dengan osteoarthritis. Banyak formula dari isi injeksi hyaluronic acid intraartikular sekarang sedang diteliti pengunaannya pada sendi lain dalam rangka perluasan indikasi dalam terapi osteoarthritis di sendi lain seperti bahu, pinggang dan pergelangan kaki (Hart dan Miller , 2007; Brockenbrough , 2006., Geier, 2002)
Penelitian lain mengunakan model binatang digunakan untuk memperluas indikasi penyuntikan hyaluronic acid intraartikular dalam bidang ortopedik. Salah satu penelitian memeriksa efek dari injeksi hyaluronic acid pada graft osteokondral dimana terdapat efek positif dalam survival dari kondrosit. Penelitian binatang lain meneliti efek hyaluronic acid pada meniscus, dan menemukan bahwa proses penyembuhan dari robekan periferal lebih cepat dan memfasilitasi remodeling setelah meniscectomi pada lutut. Efek perlindungan baik pada meniskus dan kartilago sendi telah ditunjukan dengan model dimana dilakukan pemberian luka cukup parah pada meniskus, mensugestikan bahwa injeksi hyaluronic acid intraartikular dapat menurunkan progresifitasan dari osteoarthritis pada lutut yang “at risk” tersebut (Hart dan Miller , 2007)
Tentu saja, lebih banyak penelitian yang dibutuhkan untuk membuktikan hal diatas, tapi sejauh ini keluarannya cukup menjanjikan

Efek samping
Dari banyak penelitian yang dilakukan dengan hyaluronan, rata rata efek samping biasanya rendah (umumnya no sampai tiga persen) (Wen, 2000) Tidak ada efek samping sistemik yang ditemukan dalam penyuntikan hyaluronic acid. Kebanyakan efek samping yang dilaporkan adalah rasa sakit lokal di tempat penyuntikan atau efusi, dimana biasanya hilang setelah satu sampai tiga hari. Laporan timbulnya pseudogout pernah terjadi. Tidak jelas apakah reaksi lokal ini disebabkan oleh hyaluronic acid itu sendiri atau dari prosedur injeksi. Tidak ada efek samping jangka panjang yang dilaporkan (Wen, 2000).

Teknik
Penyuntikan hyaluronic acid dilakukan secara berkala setiap minggu. Rekomendasi terkini dilakukan sampai tiga atau lima kali penyuntikan (Hart dan Miller , 2007; Wen, 2000; Grossman, 2006). Walaupun penelitian sedang dilakukan untuk meneliti apakah penyuntikan lebih sedikit sama efektifnya. Tapi data penelitian yang solid belum ditemukan untuk mengubah rekomendasi penyuntikan yang sekarang. (Hart dan Miller , 2007) Penyuntikan dapat diulang enam bulan kemudian (Wen, 2000)
Sendi lutut dapat disuntikan dalam beberapa cara. Satu pendekatan dilakukan dengan berbaring terlentang diatas meja pemeriksaan dengan lutut difleksikan 90 derajat. Dengan posisi ini, bagian anteromedial dan anterolateral dapat dengan mudah dipalpasi dan menjadi tempat ideal untuk penyuntikan. Cara lain, lutut diekstensikan, tetap dalam posisi berbaring terlentang, kebanyakan yang dipakai adalah sudut sublateral dari patella untuk tempat penyuntikan. Dengan pendekatan ini (kaki diekstensikan) jarum diarahkan langsung ke bawah patella (Wen, 2000., Cefalu dan Waddell, 1999)
Apapun pendekatan yang digunakan, tempat dimana kita akan menyuntik dapat ditandai sebelumnya dengan ujung kuku atau dengan goresan pen. Selanjutnya, persiapan steril dengan betadin dan alkohol dilakukan. Jarum ukuran 22 sampai 25 dapat digunakan untuk penyuntikan. Anestesi lokal dengan lidokain dapat digunakan sebelum penyuntikan, tetapi dengan jarum arthrosentrik ukuran kecil anestesi tidak selalu diperlukan. Alternatif spray etil klorida dapat digunakan untuk anestesi lokal. Bila dalam penyuntikan ditemukan tahanan, arah suntikan dapat dirubah bila diperlukan. (Wen, 2000)
Jika efusi terjadi, aspirasi sendi direkomendasikan terlebih dahulu sebelum penyuntikan hyaluronic acid dilakukan (Wen, 2000., Cefalu dan Waddell, 1999), hal ini dilakukan untuk mencegah dilusi dari cairan hyaluronic acid. Aspirasi dapat dilakukan pada tempat penyuntikan yang sebelumnya sudah dijabarkan. Dalam kasus tertentu, aspirasi dapat dilakukan dengan jarum 18 atau 20. Setelah dilakukan anestesi, klem hemostat dapat dipakai untuk menstabilkan jarum, setelah jarum aspirasi dicabut, semprit berisi hyaluronic acid dapat dipasang pada jarum penstabil yang sama, diikuti dengan penyuntikan (Wen, 2000., Geier, 2002). Setelah penyuntikan. Pasien dianjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik yang meregangkan sendi selama 24 jam. Selama waktu itu, pasien sebaiknya istirahat, dapat juga mengunakan es untuk mengkompres dan sendi kaki ditinggikan. Walau beberapa pasien mengalami perbaikan cepat setelah penyuntikan, tetapi mungkin membutuhkan 3-6 minggu kemudian untuk merasakan efeknya (Geier, 2002)

Euflexxa
Euflexxa adalah produk hyaluronic acid non avian pertama yang diakui oleh FDA untuk pengobatan osteoarthritis. Euflexxa dihasilkan dari sel sel bakteri melalui fermentasi seluler dan tidak mengandung kimia sambung silang (cross link) ataupun modifikasi struktur dari molekul hyaluronic acid. (Grossman, 2006)
Euflexxa didesain agar mirip dengan hyaluronic acid yang alami di persendian normal kita, baik dalam segi stuktur, berat molekul maupun tingkat kemurnian. Satu struktur rantai hyaluronic acid Euflexxa sangat mirip dengan hyaluronic acid manusia. Berat molekul Euflexxa berkisar 2,4-3,76 juta Dalton dimana masuk dalam jangkauan hyaluronic acid manusia (4 – 7 juta Dalton)
Kemurnian dari Euflexxa sudah diverifikasi melalui berbagai tes laboratorium dan prosedur, termasuk elektroforesis, UV absorbance spectrophotometry, high liquid chromatography dan immunoradiometric assay. Tes untuk Euflexxa telah dikonfirmasi bahwa ketidak murnian semacam protein asing, asam nukleat, endotoksin dan zat potensial penyebab inflamasi berada pada batas ambang deteksi
Kemurnian dari Euflexxa menyingkirkan resiko terjadinya alergi atau reaksi hipersensitivitas yang mungkin bisa terjadi karena kontaminasi protein avian, asam nukleat dan endotoksin yang terdapat pada produk hyaluronic acid lainnya
Sebagai tambahan, Euflexxa diproses untuk menyingkirkan efek samping seperti efusi sendi yang dihubungkan dengan keberadaan kimia asing dari produk hyaluronic acid

Pertimbangan terapi
Euflexxa (1% Natrium hyaluronate) diindikasikan untuk nyeri lutut karena osteoarthritis. Digunakan pada orang orang yang gagal terapi dengan medikasi analgesik simpel seperti acetaminophen atau dengan olahraga dan atau fisioterapi (Holmberg, 2006)
Pasien dengan osteoarthritis ringan dan sedang adalah kandidat untuk pengobatan dengan Euflexxa
Euflexxa sebaiknya tidak digunakan pada orang yang sebelumnya mengalami reaksi alergi dengan preparat hyaluronate dimana terjadi infeksi sendi lutut ataupun penyakit kulit di area penyuntikan
Dalam penelitian Euflexxa yang dilakukan secara random, double blind dan multi center, didapatkan efek samping dari Euflexxa yang lebih dari 5% adalah arthralgia (8,75%). Nyeri sendi temporer dan bengkak pada lutut dapat terjadi paska penyuntikan dengan Euflexxa  (Holmberg, 2006)
Selain itu telah dilakukan penelitian lanjutan mengenai Euflexxa dibandingkan dengan produk hyaluronic acid lainnya, seperti penelitian sebelumnya penelitian ini dilakukan secara random, prospective, double blind, multi center, active control study. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ketanpa kekurangan (noninferiority) dari Euflexxa, dibandingkan dengan produk hyaluronic acid lainnya. Evaluasi nyeri dibuat berdasarkan tingkat nyeri bila berjalan di permukaan datar, naik turun tangga, istirahat sewaktu malam, duduk atau berbaring dan bangun berdiri. 160 pasien dirandom untuk menerima euflexxa, 161 pasien menerima produk aktif kontrol. Setiap grup menerima penyuntikan tiga kali seminggu di awal penelitian (Holmberg, 2006)
Setelah 12 minggu, peneliti menemukan bahwa hilangnya nyeri terjadi pada ke lima parameter nyeri terdapat pada euflexxa dibandingkan dengan kontrol. Oleh karena itu ketanpa kekurangan (noninferiority) dari Euflexxa dapat terbukti kebenarannya. (Holmberg, 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s