Info sendi

Sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang tulang ini dipadukan dengan berbagai cara, misalna dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligamen, tendon, fasia, atau otot.

Sendi
Silvia 1360 (Michael Carter, 2002)
Sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang tulang ini dipadukan dengan berbagai cara, misalna dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligamen, tendon, fasia, atau otot. Terdapat tiga tipe sendi; (1) Sendi fibrosa (sinartrodial), merupakan sendi yang tidak dapat bergerak, (2) Sendi kartilaginosa (amfiartrodial), merupakan sendi yang dapat sedikit bergerak, (3) Sendi sinovial (diartodial), merupakan sendi yang dapat digerakan dengan bebas (Michael Carter, 2002)

Sendi fibrosa
Sendi fibrosa tidak memiliki lapisan tulang rawan, dan tulang yang satu dengan tulang lainnya dihubungkan oleh jaringan ikat fibrosa. Terdapat dua tipe sendi fibrosa; (1) Sutura diantara tulang tulang tengkorak dan (2) sindesmosis yang terdiri dari suatu membran interoseus atau suatu ligamen di antara tulang. Serat serat ini memungkinkan sedikit pergerakan tetapi bukan merupakan gerakan sejati (Michael Carter, 2002)
 
Sendi kartilaginosa
Sendi kartilaginosa adalah sendi yang ujung ujung tulangnya dibungkus oleh rawan hialin, disokong oleh ligamen dan hanya dapat sedikit bergerak. Ada dua tipe sendi kartilaginosa. Sinkondrosis adalah sendi sendi yang seluruh persendiannya diliputi oleh rawan hialin. Sendi sendi kostokondral adalah contoh dari sinkondrosis. Simfisis adalah sendi yang tulang tulangnya memiliki suatu hubungan fibrokartilago antara tulang dan selapis tipis rawan hialin yang menyelimuti permukaan sendi. Simfisis pubis dan sendi sendi pada tulang punggung adalah contoh contohnya (Michael Carter, 2002)
 
Sendi sinovial
Sendi sinovial adalah sendi sendi tubuh yang dapat digerakan. Sendi sendi ini memiliki rongga sendi dan permukaan sendi dilapisi rawan hialin.
Kapsul sendi terdiri dari suatu selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalam yang terbentuk dari jaringan ikat dengan pembuluh darah yang banyak, dan sinovium, yang membentuk suatu kantung dengan melapisi seluruh sendi, dan membungkus tendon yang melintasi sendi. Sinvium tidak meluas melampaui permukaan sendi, tetapi terlipat sehingga memungkinkan gerakan sendi secara penuh
Sinovium menghasilkan cairan yang sdangat kental yang membasahi permukaan sendi. Cairan sinovial normalnya bening, tidak membeku, dan tidak berwarna atau berwarna kekuningan. Jumlah yang ditemukan pada tiap tiap sendi normal relatif kecil (1 sampai 3 ml). Hitung sel darah putih pada cairan ini normalnya kurang dari 200 sel/ml dan terutama adalah sel sel mononuklear. Asam hialuronidase adalah senyawa yang bertanggung jawab atas viskositas cairan sinovial dan disintesa oleh sel sel pembungkus sinovial. Bagian cair dari cairan sinovial diperkirakan berasal dari transudat plasma. Cairan sinovial juga bertindak sebagai sumber nutrisi bagi rawan sendi (Michael Carter, 2002)
Sendi dilumasi oleh cairan sinovial dan oleh perubahan perubahan hidrostatik yang terjadi pada cairan intersitial rawan. Tekanan yang terjadi pada rawan akan mengakibatkan pergeseran cairan ke bagian yang kurang mendapat tekanan. Sejalan dengan pergeseran sendi ke depan, cairan yang bergerak ini juga bergeser ke depan mendahului beban. Cairan kemudian akan bergerak ke belakang kembali ke bagian rawan sehingga tekanan berkurang. Kartilago sendi dan tulang tulang yang membentuk sendi normalnya terpisah selama gerakan selaput cairan ini. Selama terdapat cukup selaput atau cairan, rawan tidak dapat aus meskipun dipakai terlalu banyak
Aliran darah ke sendi banyak yang menuju ke sinovium. Pembuluh darah mulai masuk melalui tulang subkondral pada tingkat tepi kapsul. Jaringan kapiler sangat tebal di bagian sinovium yang menempel langsung pada ruang sendi. Hal ini memungkinkan bahan bahan di dalam plasma berdifusi dengan mudah ke dalam ruang sendi. Proses peradangan dapat sangat menonjol di sinovium, karena di daerah tersebut banyak mendapat alirah darah, dan disamping itu juga terdapat sel mast dan sel lain dan zat kimia yang secara dinamis berinteraksi untuk merangsang dan memperkuat respon (Michael Carter, 2002)
Saraf saraf otonom dan sensorik tersebar luas pada ligamen, kapsul sendi, dan sinovium. Saraf ini berfungsi untuk memberikan sensitivitas pada struktur struktur ini terhadap posisi dan pergerakan. Ujung ujung saraf pada kapsul, ligamen dan pembuluh darah adventesia sangat sensitif terhadap peregangan dan perputaran. Nyeri yang timbul dari kapsul sendi atau sinovium cenderung difus dan tidak bisa dilokalisir. Sendi dipersyarafi oleh saraf saraf perifer yang menyebrangi sendi. Ini berarti nyeri dari satu sendi mungkin dapat dirasakan pada sendi lainnya, misalnya nyeri pada sendi panggul dapat dirasakan sebagai nyeri lutut (Michael Carter, 2002)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s