Info hipervitaminosis A dan fraktur

Keracunan vitamin A secara kronik dapat mempengaruhi tulang dan metabolisme mineral. Asam retinoat, metabolit aktif dari vitamin A, dapat menstimulasi pembentukan dan aktivitas osteoklas, menyebabkan peningkatan resorbsi tulang dan pembentukan reaksi periosteal

Hipervitaminosis A dan fraktur
Keracunan vitamin A secara kronik dapat mempengaruhi tulang dan metabolisme mineral. Asam retinoat, metabolit aktif dari vitamin A, dapat menstimulasi pembentukan dan aktivitas osteoklas, menyebabkan peningkatan resorbsi tulang dan pembentukan reaksi periosteal. Hiperkalsemia juga dapat diamati. Peningkatan resorbsi tulang telah dapat dihubungkan pada kejadian fraktur di tikus. Reaksi periosteal tulang menyebabkan hiperostosis yang khas di metakarpal, metatarsal dan tulang panjang lainnya seperti ulna, tibia dan fibula. Reaksi periosteal yang mengantikan tulang panjang terlihat dari lakula osteosit yang besar, merupakan karakteristik keracunan vitamin A, telah diamati pada fosil homo erectus yang ditemukan di Kenya dan dihubungkan dengan kebiasaan makan hati karnivora

Beberapa kelompok peneliti telah mengamati kemungkinan diet vitamin A berlebih berhubungan dengan menurunnya bone mineral density dan meningkatnya resiko fraktur panggul

Melhus dkk melakukan penelitian untuk mengidentifikasi penyebab tingginya insiden fraktur panggul di Swedia dan Norwegia. Survey epidemilogi awal menunjukan bahwa intake vitamin A di Skandinavia 6x lebih tinggi dibandingkan Eropa Selatan. Penelitian Melhus dkk merupakan penelitian cross sectional mengenai bone mineral density dan case kontrol untuk insiden fraktur panggul. Dengan analisa multivariat dengan variabel seperti Indeks massa tubuh, intake kalori, tingkat aktivitas fisik, status merokok, status estrogen dan pengunaan estrogen, intake vitamin A secara bermakna berhubungan dengan bone mineral density dari tulang lumbal, leher femoral dan trochanter, begitu juga dengan total body bone mineral density. Bone mineral density 10 persen lebih rendah pada orang dengan intake vitamin A melebihi 1,5 mg setiap harinya dibandingkan dengan orang intake kurang 1,5 mg. Relative risk fraktur panggul adalah 2,1 untuk orang yang intake vitamin A melebihi 1,5 mg setiap harinya dibandingkan dengan intake kurang 0,5 mg setiap harinya

Data tersebut dikonfirmasi dari laporan Nurse health study, dimana total intake vitamin A setara atau lebih dari 1,5 mg setiap hari memiliki relative risk fraktur panggul 1,64 dibandingkan dengan orang yang intake vitamin A nya kurang dari 0,5 mg setiap hari. Di sisi lain, intake beta karoten tidak bermakna dalam meningkatkan resiko fraktur panggul

Pada studi Rancho Bernado, didapatkan asosiasi U terbalik antara intake vitamin A dengan bone mineral density. Dalam penelitian itu diketahui bahwa bone mineral density optimal bila intake vitamin A antara 2000 – 2800 IU perhari (0,6-0,9 mg perhari) mengindikasikan bahwa intake vitamin A rendah atau tinggi dapat mempengaruhi kesehatan tulang. Rekomendasi intake vitamin A terkini adalah 0,7 mg perhari buat wanita, dan 0,9 mg perhari buat pria. Intake maksimal yang dianggap masih aman adalah 3 mg perhari. Pada laporan Nurse health study 21 persen partisipan mengkonsumsi vitamin A lebih dari ini

Michaelsson dan kerabatnya di Swedia memberi data lanjutan mengenai efek vitamin A pada tulang secara jangka panjang. Mereka melakukan studi prospektif dari 2322 pria dimana serum retinol dan tingkat betakaroten diukur pada garis dasar. Selama 30 tahun kemudian, fraktur dilaporkan pada 266 pria. Relative risk sebesar 1,64 untuk apapun jenis fraktur dan 2,47 untuk fraktur panggul terjadi pada orang dengan serum retinol quartil tertinggi (lebih dari 75,62 ug/dl), dibandingkan dengan serum retinol quartil tengah (62,16-67,60 ug/dl). Relative risk untuk apapun jenis fraktur sebesar 7,14 terjadi pada orang dengan serum retinol lebih dari 103,12 ug/dl
Penelitian ini menunjukan asosiasi langsung antara fraktur dan retinol serum dalam darah, walaupun retinol serum hanya diukur sekali. Seperti penelitian sebelumnya tingkat betakaroten tidak berhubungan dengan resiko fraktur. Michaelsson dkk menyimpulkan bahwa serum retinol yang tinggi (lebih dari 86 ug/dl) meningkatkan resiko terjadinya fraktur, dan ini harus dihindari. Mereka mengatakan bahwa hipervitaminosis A dapat menjelaskan mengenai tingginya insiden fraktur panggul di Skandinavia dan Amerika, dimana negara tersebut suplemen vitamin A biasa digunakan

National Helath and Nutrition Examination Survey ketiga (NHANES III) menunjukan bahwa rendahnya tingkat retinol serum (kurang dari 20,05 ug/dl) jarang pada anak anak dan dewasa, tapi dalam tingkat yang suboptimal (kurang dari 30,08 ug/dl) lebih sering pada orang kulit hitam dan anak anak Mexico-american daripada orang kulit putih. Tingat retinol serum yang tinggi (lebih dari 74,48 ug/dl) dilaporkan 5 sampai 10 persen partisipan NHANES III umumnya adalah pria lebih dari 30 tahun dan wanita diatas 50 tahun

Retinol serum meningkat sesuai dengan umur, mungkin disebabkan oleh menurunnya klirens metabolisme, sehingga orang yang tua lebih beresiko timbul hipervitaminosis A. Suplemen yang mengandung vitamin A digunakan pada 28 persen partisipan NHANES III dan dalam 46 persen wanita dan 38 persen pria di penelitian longitudinal Baltimore. Proporsi partisipan dalam Nurse Health Study yang mengunakan suplemen multivitamin meningkat dari 34 persen di 1980 menjadi 53 persen di 1996

Dapat disimpulkan berdasarkan data diatas bahwa suplemen yang mengandung vitamin A seharusnya tidak diberikan secara rutin kepada laki laki maupun perempuan dan fortifikasi sereal dengan vitamin A dipertanyakan. Di sisi lain, defisiensi vitamin A dan xeroftalmia seing terjadi pada negara Afrika dan Asia dan dihubungkan dengan anak anak malnutrisi. Suplemen vitamin A dan fortifikasi makanan dengan vitamin A telah digunakan untuk mencegah xeroftalmia tersebut, Walaupun kadang ditemukan laporan xeroftalmia di negara Barat, hal tersebut dikarenakan diet yang kurang. Oleh karena itu jendela terapi untuk vitamin A sangat sempit. Fraktur osteoporosis karena intake vitamin A berlebih menjadi resiko diantara para dewasa, terutama orang tua, dimana penyakit mata karena defisiensi vitamin A lebih sering pada anak yang malnutrisi. Penelitian dari Michaelsson dkk menyarankan bahwa suplementasi vitamin A dan fortifikasi makanan dengan vitamin A dapat berbahaya di negara Barat, dimana angka harapan hidup tinggi dan prevalensi osteoporosis meningkat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s