Info fraktur

Menurut definisi, fraktura adalah putusnya kesinambungan suatu tulang, tetapi trauma yang cukup untuk menimbulkan fraktur hampir tidak dapat dielakan akan menimbulkan cedera jaringan lunak, sehingga untuk penilaian fraktur akut dan rehabilitasi setelah fraktur, maka diperlukan pengetahuan mengenai komponen otot, vaskular dan neurologi cedera

Klasifikasi

Bila terjadi garis fraktura tunggal, maka dinamakan fraktur sederhana. Garis fraktur majemuk dan fragmen tulang membentuk fraktur kominuta. Trauma ini bisa tidak tergeser (dalam posisi anatomi) atau tergeser. Luka yang berhubungan dengan fraktur bisa akibat trauma penetrasi luar atau akibat frakmen tulang yang membelah kulit dalam perjalanan traumanya.
Sehingga fraktur digambarkan sebagai sederhana atau kominuta, tergeser atau tidak tergeser, serta terbuka atau tertutup. Pembedaan ini penting, karena mempengaruhi terapi dan prognosis

Pola fraktur ditentukan dalam tingkatan tertentu oleh sifat tenaga yang diberikan. Gerakan membengkokan yang diberikan ke tulang panjang menimbulkan fraktur oblik atau tranversa sederhana, pukulan langsung atau tenaga yang meremukan menghasilkan fraktur kominuta, tenaga puntiran sering menimbulkan fraktur spiral dan kompresi sumbu bisa menimbulkan fraktur jepit (impaksi). Tenaga traksi pada titik perlekatan tendo bisa menimbulkan fraktur avulsi dengan fragmen tergeser oleh kontraksi otot yang hebat

Trauma berulang kronis bisa juga menyebabkan fraktura. Pada atlet yang melakukan gerakan badan berlelebihan tiap hari. fraktur kelelahan atau stress dalam ekstrimitas bawah bisa terjadi. Pada pasien tua dengan osteoporosis, aktivitas harian rutin berulang (berjalan) atau mendadak (mengangkat objek) bisa menyebabkan fraktura insufisiensi. Fraktura nontraumatik dengan adanya timbunan metastatik atau infeksi dinamakan sebagai fraktur patologis

Patofisiologi

Evaluasi cedera akut

Bila terjadi fraktur, maka pendarahan lokal akan menimbulakan hematom yang semakin membesar dan menyelubungi tempat fraktura. Hematom atau pergeseran tulang fraktur oleh konstraksi otot  bisa menyebabkan tekanan pada saraf dan pemuluh darah lokal. Sehingga diperlukan evaluasi neurologi dan vaskular yang cermat. Trauma saraf dan vaskular bisa juga terjadi akibat penetrasi oleh fragmen fraktur yang tajam. Pendarahan ke dalam ruang anatomi seperti ruang anterior tungkai atau ruang volar lengan bawah bisa menimbulkan gangguan neurologi dan membutuhkan fasiotomi dekompresi. Pada fraktur pelvis dan femur atau pada fraktur majemuk, maka pendarahan tempat fraktur cukup untuk menimbulkan syok hipovolemik

Pada sejumlah kecil pasien, biasanya yang telah mengalami syok hipovolemik, maka sindrom embolisasi lemak bisa timbul. Komplikasi pernapasan ini pertama dikenal dengan meningkatnya frequensi nada, penurunan Hb dan penurunan PO2 arteri, konfusi mental, petichea pada dada dan abdomen, partikel lemak bebas dalam urin serta infiltrat berbecak pada foto torax melengkapi gambaran klinis. Pengenalan dini penting untuk menghindari perburukan cepat dan kematian. Dosis besar kortikosteroid dan oksigen yang diberikan dengan masker, intubasi atau tracheostomni biasanya akan menimbulkan perbaikan dalam 4-5 hari

Penyembuhan fraktura

Dalam hematom yang membungkus fraktur dan edema sekitar akibat kongesti vena, terjadi reaksi radang steril. Sel mesenkim dari periosteum, endosteum dan bidang fasia berdekatan mulai berdiferensiasi menjadi osteoblas dan jaringan granulasi menginvasi hematom. Perubahan ini dapat dinilai dalam 2-3 hari secara mikroskopis, menghasilkan “kalus fraktura” yang secara radiologis terditeksi pada hari ke 12-14 setelah terjadi mineralisasi pada osteoid primitif. Kalus fraktura menjembatani celah antara fragmen tulang serta secara bertahap matang menjadi tulang lamelar. Kecepatan sembuh dari fraktur dipengaruhi oleh usia, tempat dan tenaga fisik lokal pada fraktura. Jika terjadi kompresi ujung fraktur, pematangan kalus fraktur dipercepat. Jika ada gerakan maka sel mesenkim primitif bisa berdiferensiasi menjadi kartilago dibandingkan menjadi tulang. Jika gerakan tidak berlebihan, maka kalsifikasi terjadi pada rawan secara osifikasi endokondral. Tetapi bila gerakan berlebihan dan kontinue, maka timbul celah pada kalus rawan tersebut dan menjadi pseudoartrosis. Distraksi berlebihan pada tempat fraktura bisa menimbulkan jaringan fibrosa dan menimbulkan non union fibrosa. Penyembuhan fraktur juga dipengaruhi oleh suplai darah yang tersedia. Sehingga fraktur metafisisi sembuh lebih cepat dibandingkan diafisis
Prinsip terapi fraktura

Reduksi

Pemulihan keselarasan anatomi dinamakan reduksi, jelas tidak diperlukan suatu reduksi pada fraktur yang tidak tergeser atau fraktur jepit stabil. Reposisi manipulatif biasanya dapat dikerjakan pada fraktura ekstimitas distal (tangan, pergelangan tangan, kaki dan tungkai) dimana spasme otot tidak terlalu hebat. Pada fraktur yang lebih proksimal, seperti fraktur femur dan humerus memerlukan traksi kontinue untuk mengatasi otot kuadrisep atau bisep trisep yang lebih kuat. Fraktur tertentu mungkin tidak tepat untuk reduksi manipulatif atau traksi, dalam kasus ini diperlukan reduksi terbuka bedah. Reduksi terbuka biasanya disertai oleh sejumlah bentuk fiksasi interna dengan plat, pin, batang atau sekrup

Imobilisasi

Bila reduksi telah tercapai, maka diperlukan imobilisasi tempat fraktur sampai timbul penyembuhan yang mencukupi. Berbagai teknis digunakan dalam imobilisasi tergantung jenis frakturnya. Fraktur impaksi pada humerus proksimal sifatnya stabil serta hanya memerlukan balutan lunak, juga fraktur kompresi  pada vertebra, tepat diterapi dengan korset atau brace. Fraktur dengan reduksi terbuka diimobilisasi dengan keberadaan perangkat keras interna, serta imobilisasi eksternal biasanya tidak diperlukan
Kebanyakan fraktur ekstrimitas dapat diimobilisasi denga gips atau fibergips atau dengan brace. Dalam pemasangan gips perlu diperhatikan kelekatan gips dengan kulit, jangan sampai terjadi penekanan gips pada kulit, vaskular dan saraf
Dalam imobilisasi fraktur ekstrimitas biasanya diperlukan pengistirahatan sendi baik diatas maupun dibawah fraktur guna menghilangkan pemindahan tenaga ke fraktur, sebagai contoh gips lengan panjang yang mengimobilisasi siku dan pergelangan tangan diperlukan untuk fraktur lengan bawah

Rehabilitasi

Bila penyatuan tulang padat terjadi, maka rehabilitasi diperlukan terutama masalah pemulihan jaringan lunak, kapsula sendi, otot dan ligamen sewaktu gips atau bidai dilepaskan. Dianjurkan terapi fisik untuk gerakan aktif dan pasif serta penguatan otot. Edema statis yang terjadi setelah gips dilepaskan, secara bertahap berkurang dengan kembalinya gerakan dan tonus otot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s