Info soy yoghurt

Kedelai atau kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan Timur Jauh seperti kecap, tahu dan tempe

II.1.1 Tanaman Kacang Kedelai
Kedelai atau kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan Timur Jauh seperti kecap, tahu dan tempe. Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max (disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). G. max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti Tiongkok dan Jepang selatan, sementara G. soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia Tenggara  (Winarso, 2005). Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910 (Winarso, 2005).
Tanaman ini berupa semak dengan tinggi mencapai 50 cm. Biji tanaman kedelai yang berbentuk polong seperti kacang-kacangan,  yang  mengandung berbagai zat seperti lemak tak jenuh linoleat, oleat, arakhidat, serta zat lainnya, telah dipercaya mampu memberikan manfaat bagi dunia kesehatan. Beberapa di antaranya merupakan resep warisan para orang tua dulu yang meyakini kemampuan kedelai bagi penyembuhan penyakit (Winarso, 2005).
Seperti untuk mengobati sakit batuk, kecap yang dibuat dari kedelai dan dicampur air jeruk nipis telah dipercaya manjadi obat yang cukup mujarab mengobatinya. Begitu pula dengan berbagai penyakit lainnya, seperti diabetes, ginjal, anemia, rematik, diare, hepatitis, dan hipertensi. Kandungan zat dalam kedelai diyakini cukup berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit tersebut (Winarso, 2005).
Konsumsi produk kedelai (soy products) pada populasi penduduk Jepang yang besarnya 10 kali lipat bila dibandingkan dengan penduduk AS, ternyata memperlihatkan rendahnya angka kejadian banyak penyakit pada kaum wulan. Data menunjukkan bahwa tingginya konsumsi produk-produk kedelai tersebut sangatlah bermanfaat dalam mencegah pelbagai penyakit kardiovaskular (yakni dengan mengendalikan kadar kolesterol pada kadar yang normal), mencegah kanker payudara dan prostat, meningkatkan kesehatan tulang (mencegah osteoporosis), dan mengurangi berbagai gejala serta keluhan menopause (Achadiat,  2000)
Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhn kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia  (Winarso, 2005).
Kedelai merupakan tumbuhan serbaguna. Karena akarnya memiliki bintil pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman dengan kadar protein tinggi sehingga tanamannya digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak. Pemanfaatan utama kedelai adalah dari biji. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Olahan biji dapat dibuat menjadi (Winarso, 2005).
• susu kedelai (baik bagi orang yang sensitif laktosa),
• tahu (tofu),
• bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai hitam),
• tempe
• tepung kedelai,
II.1.2 Sejarah Kedelai

Kedelai di Indonesia konon sudah diketahui sejak zaman Kerajaan Demak sewaktu orang-orang di pesisir Pulau Jawa melakukan perdagangan dengan orang-orang Cina. Beberapa dari pedagang Cina tersebut kemudian ada yang menetap di Demak, lalu mereka meminta pada para petani setempat untuk menanam dan mengusahakan kedelai di sawah dan ladang mereka. Sejak itulah kedelai menjadi tanaman eksotik di Pulau Jawa dan disebarluaskan di kalangan petani setempat. (Koswara, 2006).
Kemudian, sekitar tahun 1700, orang-orang Belanda mendirikan loji dagang di Jepara. Saat itu pula, kedelai sudah menjadi tanaman pangan yang cukup populer di In-donesia. Oleh orang Belanda, kedelai banyak dibawa ke negerinya, termasuk negara-negara Eropa lainnya. Hingga akhirnya oleh Rum-phius kedelai diberi nama latin Cadelium. Oleh para taksonomis lainnya, kedelai diberi nama Soja max, Glycine max, dan Glycine soja. Banyaknya nama alias tersebut membuktikan bahwa tanaman kedelai cukup dikenal dan tersebar luas di dunia (Koswara, 2006).
Ternyata kedelai juga tidak hanya dijadikan sebagai makanan. Beberapa abad Sebelum Masehi, bangsa Cina memanfaatkan kedelai untuk dijadikan susu, yaitu dengan cara merebusnya, lalu digiling, dan diperas diambil airnya. Resep tersebut lalu menyebar ke negara-negara lain seperti Jepang, Amerika, termasuk Indonesia Bahkan, pada zaman Orde lama, adanya susu kedelai ini cukup membantu. Kala itu, bangsa Indonesia mengalami kekurangan susu sapi dan anak-anak balita cukup tertolong oleh susu kedelai ini, karena nilai gizinya hampir sama dengan susu sapi. Hingga sekarang, pemanfaatan seperti itu masih diusahakan, bahkan kini banyak kita jumpai dalam bentuk kemasan yang dijual di toko dan supermarket (Koswara, 2006).

II.1.3 Kandungan Gizi Susu Kedelai

 Komposisi susu kedelai hampir sama dengan susu sapi. Karena itu susu kedelai dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi. Susu ini baik dikonsumsi oleh orang yang alergi terhadap susu sapi, yaitu orang-orang yang tidak punya atau kurang enzim laktase dalam saluran pencernaannya, sehingga tidak mampu mencerna laktosa dalam susu sapi.
Laktosa susu sapi yang lolos ke usus besar akan dicerna oleh jasad renik yang ada di sana. Akibatnya, orang yang tidak toleran terhadap laktosa akan menderita diare setiap kali minum susu sapi. Umumnya, mereka adalah orang dewasa yang tidak minum susu pada waktu masih kecil. Karenanya, penderita kebanyakan berasal dari kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara berkembang (Koswara, 2006).
 Untuk balita dua gelas susu kedelai sudah dapat memenuhi 30% kebutuhan protein sehari. Dibandingkan dengan susu sapi, komposisi asam amino dalam protein susu kedelai kekurangan jumlah asam amino metionin dan sistein. Tetapi, karena kandungan asam amino lisin yang cukup tinggi, maka susu kedelai dapat meningkatkan nilai gizi protein dari nasi dan makanan sereal lainnya (Koswara, 2006).
 Mutu protein dalam susu kedelai hampir sama dengan mutu protein susu sapi. Misalnya, protein efisiensi rasio (PER) susu kedelai adalah 2,3, sedangkan PER susu sapi 2,5. PER 2,3 artinya, setiap gram protein yang dimakan akan menghasilkan pertambahan berat badan pada hewan percobaan (tikus putih) sebanyak 2,3 g pada kondisi percobaan baku. Susu kedelai tidak mengandung vitamin B12 dan kandungan mineralnya terutama kalsium lebih sedikit ketimbang susu sapi. Karena itu dianjurkan penambahan atau fortifikasi mineral dan vitamin pada susu kedelai yang diproduksi oleh industri besar (Koswara, 2006).
 Dari seluruh karbohidrat dalam susu kedelai, hanya 12 – 14% yang dapat digunakan tubuh secara biologis. Karbohidratnya terdiri atas golongan oligosakarida dan golongan polisakarida. Golongan oligosakarida terdiri dari sukrosa, stakiosa, dan raffinosa yang larut dalam air. Sedangkan golongan polisakarida terdiri dari erabinogalaktan dan bahan-bahan selulosa yang tidak larut dalam air dan alkohol, serta tidak dapat dicerna (Koswara, 2006).
Secara umum susu kedelai mempunyai kandungan vitamin B2, B2 niasin, piridoksin, dan golongan vitamin B yang tinggi. Vitamin lain yang terkandung dalam jumlah cukup banyak ialah vitamin E dan K (Koswara, 2006).
Tetapi jika dibuat dengan cara yang tidak baik, susu kedelai masih mengandung senyawa-senyawa antigizi dan senyawa penyebab off-flavor (penyimpan cita rasa dan aroma pada produk olah kedelai) yang berasal dari bahan bakunya, yaitu kedelai. Senyawa-senyawa antigizi itu di antaranya antitripsin, hemaglutinin, asam fitat, dan oligosakarida penyebab flatulensi (timbulnya gas dalam perut sehingga perut menjadi kembung) (Koswara, 2006).
Sedangkan senyawa penyebab off-flavor pada kedelai misalnya glukosida, saponin, estrogen, dan senyawa-senyawa penyebab alergi. Dalam pembuatan susu kedelai, senyawa-senyawa itu harus dihilangkan, sehingga menghasilkan susu kedelai dengan mutu terbaik dan aman untuk dikonsumsi manusia. Untungnya, proses penghilangan senyawa pengganggu ini tidak sulit (Koswara, 2006).
Untuk memperoleh susu kedelai yang baik dan layak konsumsi, diperlukan syarat bebas dari bau dan rasa langu kedelai, bebas antitripsin, dan mempunyai kestabilan yang mantap (tidak mengendap atau menggumpal) (Koswara, 2006).
Langu memang bau dan rasa khas kedelai dan kacang-kacangan mentah lainnya, dan tidak disukai konsumen. Rasa dan bau itu ditimbulkan oleh kerja enzim lipsigenase yang ada dalam biji kedelai. Enzim itu akan bereaksi dengan lemak pada waktu penggilingan kedelai, terutama jika digunakan air dingin. Hasil reaksinya paling sedikit berupa delapan senyawa volatil (mudah menguap) terutama etil-fenil-keton (Koswara, 2006).
Bau dan rasa langu dapat dihilangkan dengan cara mematikan enzim lipksigenase dengan panas. Cara yang dapat dilakukan antara lain (1) menggunakan air panas (suhu 80 – 100oC) pada penggilingan kedelai, atau (2) merendam kedelai dalam air panas selama 10 – 15 menit sebelum digiling. Agar bebas antitripsin, kedelai direndam dalam air atau larutan NaHCO3 0,5% selama semalam (8 – 12 jam) yang diikuti dengan perendaman dalam air mendidih selama 30 menit (Koswara, 2006).
Dalam susu kedelai terdapat bahan padat yang dapat larut dan tidak dapat larut. Bahan-bahan itu pada mulanya tercampur merata, tetapi jika dibiarkan akan mengendap. Susu kedelai yang mengandung endapan di bagian bawahnya tidak disukai konsumen, meskipun sebenarnya tidak rusak (Koswara, 2006).
Supaya stabil atau tidak terjadi pengendapan, cara berikut ini dapat dilakukan: (1) menambahkan senyawa penstabil misalnya CMC dan Tween 80, (2) menggiling dengan air panas dan penyimpanan sebaiknya pada suhu dingin (kulkas), (3) melakukan homogenisasi untuk mendapatkan butir-butir lemak yang seragam menggunakan alat homogenizer, dan (4) mengatur kadar protein susu kedelai cair sampai kurang dari 7% (jika lebih dari itu protein mudah menggumpal saat susu kedelai dipanaskan), yang dilakukan dengan menambahkan air pada bubur kedelai hasil penggilingan sampai perbandingan air dan kedelai 10 : 1. Kadar protein dalam susu kedelai yang diperoleh dengan rasio ini adalah 3 – 4% (Koswara, 2006).

KOMPOSISI SUSU KEDELAI CAIR DAN SUSU SAPI TIAP 100 G

KOMPONEN   SUSU KEDELAI SUSU SAPI

Kalori (Kkal)   41,00    61,00
Protein (g)   3,50    3,20
Lemak (g)   2,50    3,50
Karbohidrat (g)  5,00    4,30
Kalsium (mg)   50,00    143,00
Fosfor (g)   45,00    60,00
Besi (g)   0,70    1,70
Vitamin A (SI)  200,00   130,00
Vitamin B1 (mg)  0,08   0,03
Vitamin C (mg) 2,00   1,00
Air (g)   87,00   88,33
Sumber: Direktorat Gizi, Depkes RI
(Koswara, 2006)

II.1.4 Kandungan Gizi Susu Kedelai Setelah Fermentasi (Soy Yoghurt)
KOMPOSISI DARI SOY YOGURT TIAP 100 G
KOMPONEN    SOY YOGHURT

Kalori (Kkal)    59
Air (g)     89
Protein (g)    4,7
Lemak (total lipid) (g)   2,7
Asam lemak, jenuh (g)  0,5
Asam lemak, tidak jenuh tunggal (g) 0,6
Asam lemak, tidak jenuh ganda (g) 1,6
Karbohidrat (g)   3,2
Serat (g)    0,2
Kolesterol (mg)   0,0
Natrium (mg)    0,0 
Sumber: USDA Nutrient Database for Standard Reference
  
II.1.5 Manfaat susu kedelai fermentasi (Soy Yoghurt)
1.  Mudah dicerna.
  Yoghurt lebih mudah dicerna dibandingkan dengan susu. Adanya bakteri hidup dan aktif akan memproduksi enzim laktase, enzim yang jumlahnya kurang pada anak dengan intoleransi laktosa. Proses pengulturan juga akan memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga lebih mudah diserap oleh anak dengan intoleransi laktosa (Carmen dan Siagian, 2007)
2.  Baik untuk kesehatan usus
  Yoghurt mengandung bakteri baik seperti Lactobacteria, terutama acidophilus. Bakteri itu meningkatkan bakteri baik pada kolon, Sehingga akan menurunkan risiko kanker kolon. Tipikal dari semua soy yoghurt adalah mengandung bakteri hidup. Bakteri hidup ini baik untuk tubuh karena dapat meningkatkan kesehatan kolon bahkan menurunkan resiko kanker kolon. Laktobakteria meningkatkan pertumbuhan bakteri baik di kolon dan menurunkan konversi asam empedu menjadi asam empedu yang karsinogenik. Selain itu bakteri baik dalam yoghurt tampaknya menghentikan produk yang berbahaya sebelum menjadi karsinogenik. Dan enzim bakteri yang dihasilkan dari proses kultur yoghurt akan mencernakan protein sehingga lebih mudah diserap (Carmen dan Siagian, 2007)
3.  Membantu proses penyerapan nutrisi
  Yoghurt meningkatkan penyerapan kalsium dan vitamin B. Adanya asam laktat pada yoghurt akan membantu mencerna kalsium susu. Dengan begitu, kalsium akan lebih mudah diserap (Carmen dan Siagian, 2007)

4.  Meningkatkan kekebalan tubuh
  Penelitian yang dilakukan terhadap 68 orang yang mengonsumsi yoghurt dua cangkir per hari menunjukkan hasil yang cukup positif. Mereka ini mempunyai kadar interferon lebih tinggi, interferon adalah famili glikoprotein yang salah satu pembentukannya dapat dirangsang oleh bakteri, berfungsi sebagai imunoregulator dan mengeluarkan aktivitas antivirus. Penelitian lain yang dilakukan pada hewan menunjukkan bahwa yoghurt mengandung faktor yang memiliki efek antitumor (Carmen dan Siagian, 2007)
5.  Membantu penyembuhan infeksi saluran cerna
  Keberadaan virus dan gangguan saluran cerna akan membentuk luka pada lapisan usus, terutama sel-sel yang memproduksi laktase. Walau hanya sementara, anak-anak bisa mengalami intoleransi laktosa selama 1-2 bulan pasca infeksi saluran cerna. Karena mengandung sedikit laktosa dan banyak enzim laktase, yoghurt dapat memulihkan kesehatan alat cerna tersebut. Penelitian menunjukkan, yoghurt mempercepat penyembuhan diare pada anak (Carmen dan Siagian, 2007)
6.  Kaya kalsium
  Dalam satu gelas yoghurt rata-rata terkandung sekitar 450 mg kalsium. Mineral ini sangat bermanfaat bagi kesehatan kolon. Orang yang diet tinggi kalsium seperti di negara Skandinavia, mempunyai tingkat kejadian kanker kolorektal lebih rendah dibanding negara lain (Carmen dan Siagian, 2007)
7.  Sumber protein.
  Satu gelas yoghurt tawar mengandung 10-14 gram protein atau sekitar 20 persen dan kebutuhan protein harian. Proses fermentasi membuat protein yang ada pada yoghurt lebih mudah dicerna (Carmen dan Siagian, 2007)
8.  Menurunkan kadar kolesterol
  Para ahli memperkirakan, bakteri hidup yang ada pada yoghurt mampu berasimilasi dengan kolesterol. Bisa juga karena yoghurt mengikat asam empedu, sehingga menimbulkan efek menurunkan kolesterol (Carmen dan Siagian, 2007)
9.  Makanan penolong.
  Keberadaan protein yang mudah dicerna serta asam laktat yang meningkatkan penyerapan mineral, membuat yoghurt baik dikonsumsi oleh anak dengan gangguan penyerapan di saluran cerna. (Carmen dan Siagian, 2007)

II.1.6 Proses Pembuatan Soy Yoghurt
 Seperti halnya susu sapi, susu kedelai juga dapat dibuat menjadi susu asam. Kalau susu asam yang dibuat dari susu sapi disebut yoghurt, maka susu asam dari susu kedelai dinamakan soyghurt (Koswara, 2006)
 Proses pembuatan soyghurt dan kultur (biakan murni) starter yang digunakan pada dasarnya sama seperti pada pembuatan yoghurt. Tetapi, proses fermentasi pada pembuatan soyghurt mempunyai kesulitan. Karena, jenis karbohidrat yang terdapat pada susu kedelai berbeda dengan karbohidrat susu sapi. Karbohidrat susu kedelai terdiri atas golongan oligosakarida yang tidak dapat digunakan sebagai sumber energi maupun sumber karbon oleh kultur starter. Hasil penelitian menunjukkan, bila susu kedelai langsung dinokulasi (ditambah) dengan starter dan diinkubasi selama 4 jam pada suhu 45oC tidak menghasilkan perubahan, baik pH maupun kekentalannya. Dengan kata lain, tidak terbentuk yoghurt kedelai (Koswara, 2006)
 Karena itu supaya fermentasi berhasil, susu kedelai terlebih dulu ditambah sumber gula sebelum diinokulasi. Hasil percobaan menunjukkan, soyghurt dapat dibuat dengan hasil baik bila kadar protein susu kedelai berada antara 3,6 – 4,5%, dan dengan penambahan sumber gula sebanyak 4 – 5%. Sumber gula yang ditambah di antaranya sukrosa (gula pasir), glukosa, laktosa, fruktosa, atau susu bubuk skim (Koswara, 2006)
 Yang pertama kali harus disiapkan dalam pembuatan soyghurt adalah bibit bakteri L. bulgaricus dan S. thermophilus, serta susu kedelai yang baru. Ada dua cara mendapatkan starter soyghurt, yaitu dari yoghurt yang belum dipasteurisasi dan dari bibit (biakan) murni. Perlu diketahui, ada dua macam yoghurt yang dijual di pasar, yoghurt dengan mikroba masih hidup dan yang sudah dipasteurisasi atau mirkobanya sudah dimatikan. Ukuran 1,5 sendok teh yoghurt cukup untuk fermentasi tiga gelas susu (Koswara, 2006)
 Pada pembuatan soyghurt, mula-mula susu kedelai dipasteurisasi, dengan merebusnya pada suhu antara 80 – 90oC selama 30 menit. Kemudian ditambahkan gula sebanyak 4 – 5%. Gelatin juga sering ditambahkan (tidak mutlak) sebanyak 0,5 – 1,5% untuk menjaga agar soyghurt yang dihasilkan stabil dan baik teksturnya. Untuk menambah aroma, dapat pula ditambahkan panili, orange, strawberi, atau lemon (Koswara, 2006)
 Hasil campuran ini didinginkan sampai 43oC, baru dinokulasikan starter campuran dengan perbandingan yang sama antara L. bulgaricus dengan S. thermophilus, sebanyak 5% dari volume susu kedelai. Lalu diinkubasi suhu 45oC selama 3 jam, atau pada suhu ruang selama 12 jam, yang hasil akhirnya merupakan soyghurt. Untuk bisa bertahan lama soyghurt disimpan pada suhu dingin atau dipanaskan pada suhu 65oC (Koswara, 2006)
II.1.7 Konsumsi Soy Yoghurt
 Untuk balita dua gelas susu kedelai sudah dapat memenuhi 30% kebutuhan protein sehari. Dibandingkan dengan susu sapi, komposisi asam amino dalam protein susu kedelai kekurangan jumlah asam amino metionin dan sistein. Tetapi, karena kandungan asam amino lisin yang cukup tinggi, maka susu kedelai dapat meningkatkan nilai gizi protein dari nasi dan makanan sereal lainnya (Koswara, 2006).
 Selain untuk menjaga kesehatan, yoghurt ternyata dapat mencegah kanker saluran pencernaan. Keampuhan tersebut dikarenakan yoghurt mengandung bakteri “baik” seperti Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus yang dapat memperbaiki keseimbangan flora di saluran cerna. Jika sejak dini anak sudah dibiasakan mengonsumsi yoghurt sehari sekali sebanyak 200 cc, maka keseimbangan saluran cernanya akan terjaga. Dampak menguntungkannya, kuman-kuman penyebab berbagai penyakit seperti typhus dan muntaber tidak akan bisa tumbuh. Menurut beberapa ahli, yoghurt sebagai makanan variasi mulai bisa dikonsumsi bayi selepas ASI eksklusif, yakni sekitar usia 6 bulan (Carmen dan Siagian, 2007)
 Selain itu, penelitian yang dilakukan terhadap 68 orang yang mengonsumsi yoghurt dua cangkir per hari menunjukkan hasil yang cukup optimal dalam hal perolehan manfaat di bidang imunitas. Mereka ini mempunyai kadar interferon lebih tinggi, interferon adalah famili glikoprotein yang salah satu pembentukannya dapat dirangsang oleh bakteri, berfungsi sebagai imunoregulator dan mengeluarkan aktivitas antivirus. Penelitian lain yang dilakukan pada hewan menunjukkan bahwa yoghurt mengandung faktor yang memiliki efek antitumor (Carmen dan Siagian, 2007)

II.1.8 Keamanan dan Cara Penyimpanan Soy Yoghurt
 Keistimewaan susu fermentasi terletak pada umur simpan yang lebih panjang dibanding susu segar. Hal ini membuat susu ini lebih mudah dalam penanganan dan penyimpanan, serta delivery.  Keasamannya yang tinggi (pH<4.5) membuat tidak disukai oleh mikroba-miroba kontaminan. Manfaat lain yang membuat susu fermentasi ini digemari oleh penggemarnya adalah kandungan metabolit-metabolit hasil fermentasi mikroba yang baik bagi kesehatan tubuh terutama saluran pencernaan (ACBI team, 2007)
 Shelf life susu fermentasi tergantung dari jenis produknya. Jika merupakan jenis susu fermentasi yang bakterinya hidup maka umur simpannya pendek dan harus disimpan pada suhu 4°C.  Tetapi jika jenis susu fermentasi yang dipasteurisasi atau sterilisasi maka umur simpannya bisa panjang (hal ini tergantung pula dari jenis kemasannya, dalam hal kemampuannya melindungi produk) dan bisa disimpan pada suhu ruang.  Agar shelf lifenya optimum, penyimpanannya harus dihindarkan dari paparan langsung sinar matahari atau dipilih kemasan yang mempunyai barrier yang baik terhadap sinar UV (ACBI team, 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s