Konsep perjalanan hidup (Buah pemikiran)

Pulangku kali ini tidak biasa, walaupun rutin aku melewati jalan itu

jalan cipamokolan (Bandung) menuju samsat, sepulang dari klinik handayani, aku menemukan satu esensi yang kiranya mirip seperti perjalanan hidup ini, aku seperti biasa, melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat, tidak seperti biasanya aku membawa mobil ayah ke cipamokolan, dan kali ini adalah malam…ketika menyalakan lampu, aku mencek lampu dekat dan jauhnya, oh rupanya lampu jauhnya ada, tapi sayang tidak terlalu terang. dalam perjalananku tersebut, biasanya aku membawa dongker, ya sedikit bosan pasti aku setel musik keras keras di mobil untuk menemani, sembari bernyanyi nyanyi sendiri..tapi kali ini mobil hening, hanya deruman mobil dan gemeretuk roda sesekali berbunyi karena jalan tidak rata, di tengah perjalanan menuju samsat, aku berpikir beberapa kali  mengenai jalan potong lewat jalan “planet” / jalan margahayu, sekali dua kali aku mengurungkan niatku itu, walaupun lebih dekat ke tujuan (rumah), tapi aku beresiko untuk tersasar (walau sebenarnya jalannya sudah pernah aku lewati sebelumnya, tapi ini malam, bukan siang), akhirnya aku memutuskan untuk menikung ke kiri di tengah jalan lurusku, menikung mencari alternatif jalan menuju pulang, walau beresiko, tapi resiko vs keuntungan, keuntungan lebih banyak, pertama keuntungan waktu (aku bisa menghemat waktu pulang lebih cepat), kedua keuntungan pengalaman (dalam hal ini aku merasa pulang lewat jalan “planet” malam malam cukup menantang), ketika aku menikung, benar saja aku mulai merinding sendiri, pertama jalan “planet” cukup gelap dan kurang lampu penerangan, walhasil lampu jauh mobilku nyalakan, tapi apa mau dikata, kurang membantu banyak, oh aku merasa suluh pengetahuan yang dimiliki seperti layaknya lampu jauh ini, lampu layaknya sesuatu yang mampu membawa kita lepas dari kesesatan…tapi untung ketika beberapa tikungan, ada mobil panther di depan yang menuntunku, dia menikung ke kiri, aku ikut ke kiri di belakangnya, dia ke kanan, akupun mengikuti warna merah lampu belakang mobil itu, sampai akhirnya aku merasa seperti satu dengannya, aku merasa panther itu sama sama ingin mencapai tujuanku, aku merasa aman, walau tikungan tikungan tidak jelas, aku mengandalkan mobil depan itu saja, dia penuntunku, dia penyelamatku di jalan “planet” yang penuh lika liku ini, aku yang biasanya membawa mobil santai, tapi berbeda kali ini, aku menempel dekat dekat dengan kedua lampu merah tersebut,…sampai akhirnya mobil panther itu berhasil menuntunku keluar jalan planet menuju jalan ciwastra yang aku sangat kenal, panther itu menikung ke kiri dan akupun berpindah haluan menuju ke kanan, untung saja panther itu ada, dia berhasil menuntunku lepas dari lika liku jalan yang mungkin saja menyesatkanku.. tapi kali ini, jalan ciwastra begitu penuh arus, banyak sekali mobil berlawanan arah yang berusaha menjegalku dengan “lampunya”, lampu mereka silau sekali, lampu jauh, suluh pengetahuannya begitu membuatku buta, sampai sampai aku minder dengan cahaya yang aku miliki, tapi apakah cahayaku juga menyilaukan mata mereka, tidak ada yang tahu…jalan ciwastra ke marga cinta adalah jalan yang lurus, tapi padat, mobil berlawanan arah berlalu lalang dengan cepat dan mereka besar, tegas dan stabil, lain halnya dengan motor, mereka kecil, licik, suka menyalip, tapi kadang suluh cahaya yang mereka punya sama terangnya dengan mobil, sekali dua kali aku peringatkan mereka untuk tidak menghalangi jalanku, jalanku jangan kau serobot, aku menekan klakson sembari mengusir mereka, tapi kadang mereka seperti orang yang tidak perduli, tetap saja mengambil jalanku, aku hanya bisa meraba jalan dalam kesilauan ini, kecepatan mobil tidak pernah terlalu cepat, gigi mobil hanya berkisar satu dan dua, aku merasa tidak sama cepatnya ketika melewati jalan planet yang berliku, tapi sedikit orang yang terlalu bersinar menghalangi jalanku,…sepanjang jalan ciwastra ini aku penuh konsentrasi, di depanku pun tidak ada yang menuntut, malah sebaliknya, aku adalah satu satunya mobil di depan, dan dibelakangku bergerumbul motor motor mengekorku, malah aku yang menjadi penuntun mereka, di tengah jalan itulah aku mendapat pemikiran, bahwa kedua jalan ini adalah jalan yang sering kita lalui dalam hidup,

kadang jalan yang kita tempuh berlika liku dan gelap, tapi tidak jarang juga jalan yang kita tempuh lurus tapi banyak yang menghalangi jalan kita, banyak yang tidak sejalan dengan kita (arus balik), sementara kita berjuang menembus arus balik tersebut………….
aku merasakan bahwa kadang di jalan berlika liku, jalan yang sulit untuk dicapai dengan resiko tersesat, kita butuh penuntun yang dapat dipercaya, sementara dalam jalan dimana banyak orang yang menghalangi kita, kita butuh komitmen untuk tetap melihat depan, memakai kacamata yang mampu menyaring sinar sinar orang sesat yang melawan arus kita, agar tidak terlalu silau ke mata, mampu memberi peringatan kepada orang orang yang mau menyerobot jalan kita, dan tetaplah bercahaya dalam jalan tersebut, sehingga kita bisa memberi tuntunan kepada orang orang di belakang kita….

tapi pernahkah anda berpikir bahwa kadang ada jalan yang begitu berliku, begitu naik turun dan begitu banyak orang yang melawan arus kita, menyilaukan dengan cahaya yang dimilikinya, dan tidak ada yang menuntun di depan, apakah pernah kau merasakan seperti itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s