Konsep pasien gawat (Buah pemikiran)

Pasien ATLS ku yang pertama, hari ini tgl 2 oktober 2008,

kejadian kira kira sekitar jam 10 malam, datang pasien dibopoh oleh ayahnya, pasien seorang anak laki, pasien sadar tapi sangat lemah, di sekitar tubuhnya terbalur luka tapi kecil, mulai dari kepala, wajah, lengan dan kaki, ketika ku bertanya pada sang ayah, ayah mengatakan bahwa anaknya ditabrak oleh motor dengan kecepatan tinggi, tapi ayahnya sendiri tidak secara langsung lihat kejadian, lalu aku mencoba bertanya pada anaknya langsung, anaknya mengatakan bahwa dia tertabrak motor dan lupa setelah itu apa yang terjadi, (ada kecurigaan, pasien sempat hilang kesadaran, diasumsikan cedera kepala, apalagi dibagian kening dan kepala tampak luka serut, walau tidak banyak mengalir darah). setelah itu pasien segera diletakan ke tempat periksa, saat itu aq masih berpikir bahwa luka luka yang dimiliki pasien tidak terlalu serius, tapi sang anak terlihat sangat lemah, tindakan pertamaku adalah menilai GCS (walau aku tidak sadar sedang memeriksa GCS), aku memanggil namanya, dia menyebut namanya dengan suara lemah “Aji” lalu aq suruh mengangkat tangan dan kakinya, dia melakukan sesuai perintahku, dan dia juga membuka mata spontan, GCS anak adalah 15,
segera aq melindungi diriku dengan sarung tangan, dan segera membersihkan luka di kepala, untuk melihat ada tidaknya luka serius di kepala, aku berulang kali bertanya apakah pasien ingat kronologis kejadiannya, tapi pasien berkata bahwa ia “tidak sadar” dan lupa, baiklah aku asumsikan bahwa pasien ada cedera kepala, lalu aku memberitahu pasien bahwa anak bapak perlu dirujuk ke rumah sakit, bilapun saya disini bisa merawat sementara luka lukanya, tapi pasien dengan cedera kepala perlu dilakukan foto tulang kepala minimal, lalu ayah pasien berkata, baiklah tapi tolong rawat terlebih dahulu, aku setuju dan
segera sekilas aku melihat ABC, dari A, pasien bisa bicara dan bicaranya jelas tidak ada suara sengau atau berkumur, aku asumsikan bahwa Airway clear, lalu aku menanyakan kepada pasien apakah sesak? napas sakit? katanya tidak, tapi bila napas terlalu dalam sakit, baiklah, aku membuka baju pasien dan meneliti seluruh dadanya, tidak tampak jejas yang nyata, aku mengasumsikan tidak ada jejas, lalu aku lakukan auskultasi, dari auskultasi tidak ditemukan kelainan, suara napas vesikuler, rh tidak ada, suara napas jauh tidak ada, lalu pada Circulation, aku memeriksa nadi pasien, nadi pasien tampak cepat, dan isi nadi lemah, aku tidak sempat menghitung nadinya karena kondisi yang masih setengah berantakan, tapi aku asumsikan ada masalah pada circulationnya, di tengah pemeriksaan dan sembari membersihkan luka di kepalanya dengan saline, anak mulai mengeluhkan perutnya yang nyeri, ya ini dia, aku pikir dan rada terlewatkan, ketika aku memeriksa perutnya mulai dari inspeksi, tidak ada jejas di perut, tapi ketika dipalpasi perut keras, walau tidak jelas defans muskular, lalu aku auskultasi, bising usus tidak ada, selang beberapa menit anak semakin somnolen, aku memanggil namanya berkali kali, dan Aji masih mampu menyahut walau mata kadang mulai tertutup, saya memegang tangannya dan sudah mulai dingin dan nadinya, nadi semakin mengecil, oh my God, saya langsung mengurungkan niat membersihkan luka di sekujur tubuhnya (walau terlanjur beberapa sudah saya beri betadin, tapi tidak masalah), aku memberitahu keluarga pasien (kebetulan ibu pasien datang dan menangis tersedu2) untuk segera merujuknya ke rumah sakit, saya sempat menjelaskan sekilas bahwa ada kemungkinan perdarahan organ dalam, ayah pasien segera keluar dan mencari kendaraan, sementara saya dan Aji beserta ibu yang menangis di dalam kamar periksa, saya terus menanyakan apa yang dirasa Aji sekarang, katanya perutnya nyeri sekali, pasien mengambil posisi miring ke kiri dan kaki menekuk, aku kembali mengreasses bagian abdomen, dan satu yang terlewat aku belum melakukan perkusi, ketika diperkusi tampak perbedaan perut miring atasnya (timpani) dan perut miring bawahnya (SANGAT redup), aku mulai merasa yakin bahwa pendarahan internal mungkin saja terjadi, dan itu bukan kompetensiku disini, bahkan di UGD pun perlu USG cito atau DPL (yang belum tentu bisa segera), aku merasa perlu sekali mengejar C (circulation) disini, pasien perlu diinfus guyur at least, aq makin berpacu dengan waktu, Aji semakin tidak sadar, aku memanggil namanya berulang dan memintanya tetap menjawab saya, dan Alhamdulilah akhirnya ayahnya datang dengan taxi, lalu menanyakan RS terdekat, lalu ketika ribet dengan RS mana yang terdekat (mengingat aku tidak tahu RS terdekat disini dimana), lalu Cory memberitahu rumah sakit budi asih yang terdekat dari sini, lalu ketika sang ayah ingin mengurus administrasi dengan saya dan apotek, saya segera memberitahu ayah pasien untuk tidak perlu membayar, segera tolong anak bapak,,,,saya melihat senyum sekilas sang ayah yang menyejukan hati aku, aku merasa hari ini sempat 1/2 menolong nyawa manusia, at least aku mampu merujuk segera pasien yang memang butuh rujukan, saya tahu batas kompetensi saya disini, hari ini sangat mengobati hatiku yang sakit karena dimarahi oleh ayah pasien dua hari yang lalu, ketika itu aku merasa sangat gagal sekali, tapi hari ini oleh sang ayah juga, dia senyum padaku dan berterimakasih atas pertolongannya, amin amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s